Skip to main content

Posts

Mufrad dan klasifikasinya

  Setelah kita memahami pengertian dari lafadz, klasifikasinya dan perbedaan antara lafadz musta'mal dan muhmal . Selanjutnya disini penulis ingin membahas pengertian dari lafadz mufrad dan klasifikasinya sebagai lanjutan dari tema sebelumnya.  Nah, apa itu lafadz mufrad?  Yang pertama yang harus diketahui ialah lafadz mufrad yang dimaksud didalam ilmu mantik tentu berbeda dengan apa yang dimaksud didalam ilmu nahwu yang lawannya ialah jamak atau mudhaf dan serupa mudhaf atau jumlah dan syibhul jumlah . Tetapi mufrad yang ada didalam ilmu mantik itu merupakan lawan dari pada   murakkab .  Untuk pengertiannya lafadz mufrad ialah suatu lafadz yang bagiannya tidak menunjuki kepada sebagian dari pada makna "yang di maksud".   Berdasarkan definisi ini lafadz  mufrad terbagi kepada empat: 1. Tidak ada bagian sama sekali seperti “u” dalam bahasa aceh yang artinya kelapa. 2. Ada bagian tapi bagiannya tidak menunjuki kepada makna seperti k...

Perbedaan lafadz musta'mal dan muhmal

  Secara sederhana lafadz musta’mal ialah lafadz yang ada pemakaian dalam suatu bahasa atau dengan kata lain lafadz yang menunjuki kepada makna. Sedangkan isti’mal sendiri ialah tahapan kedua terhadap suatu lafadz sesudah wadha ’. Yakni, perwujudan suatu lafadz (kata) dimulai dari wadha ’, sesudahnya baru lafadz tersebut di isti’mal (dipakai), dan apabila dipakai sesuai dengan wadha ’ maka dinamakan dengan hakikat dan apabila tidak sesuai dengan wadha ’ dinamakan dengan majaz (metafor).  Dan tahapan yang terakhir ialah hamal (menanggung), yakni si sami ’ disaat mendengar suatu lafadz tugasnya ialah mempertanggungkan atau memahami makna dari lafadz yang ia dengar dengan menggunakan kaedah di dalam ilmu bahasa itu sendiri.   Sedangkan muhmal kalau secara bahasa ialah kosong. Maka, lafadz muhmal ialah lafadz yang kosong dari pemakaian. Yakni, lafadz yang tidak dipakai dalam suatu bahasa atau lafadz yang tidak memiliki makna. Misalnya seperti estengklek , esmenent...

Lafadz dan klasifikasinya

  Sebenarnya lafadz bukanlah objek pembahasan dari pada ilmu mantik. Karena fungsi dari disiplin ilmu mantik - sebagaimana yang telah kita ketahui- ialah menjaga pikiran agar dalam proses berpikir tidak jatuh ke dalam jurang kesalahan. Dan ranah daripada berpikir itu sendiri ialah makna bukan lafadz. Nah, karena fungsi dari ilmu mantik ialah menjaga pikiran dan ranah berpikir ialah makna. Maka yang di bahas di dalam ilmu mantik ialah tentang makna-makna bukan tentang lafadz-lafadz. Namun, untuk mampu mengungkapkan dan menangkap sebuah makna dibutuhkanlah pemahaman yang baik dan benar terkait dengan dunia lafadz. Karena lafadz lah alternatif yang paling efektif sebagai dalalah (penunjuk) terhadap makna yang ada di dalam hati. Nah, karena dua alasan inilah manatiqah akhirnya membuat satu pembahasan khusus tentang lafadz yang dikenal dengan mabahisul alfhadz di dalam disiplin ilmu logika. Yang jadi pertanyaan sekarang adalah apa itu lafadz? Secara sederhana lafadz ini bisa...

LOGIKA SETAN VS LOGIKA TUHAN

  "Kalau kami tidak memamerkan kecantikan, kemolekan tubuh dan pakaian yang serba terbuka, mana ada orang yang mau menonton dan melihat konten kami hari ini, hidup ini kan butuh uang, uang memang bukan segalanya tapi segalanya butuh uang. Kami kan tidak mencuri, tidak merampok, tidak ganggu orang lain, cuma pakek pakaian yang agak terbuka aja, inipun untuk memenuhi kebutuhan hidup, gak lebih dari itu. Kalau kami gak punya uang, terus kami mau makan apa?" Bangunan logika seperti ini sudah tidak jarang lagi kita dengar, malah sudah jadi biasa, bahkan tidak nampak lagi bahwa ini merupakan sebuah kesalahan saking sudah biasanya. Inilah yang kita namakan dengan LOGIKA SETAN. Mengapa begitu? Jelas, karena  logika yang dibangun sampe segitunya hanya untuk  dalil pembenaran terhadap sesuatu yang  salah dan jelas dilarang oleh Allah SWT dan rasulnya.  Mengapa mindset kita hari ini tidak kita putar dan balik, misalnya "kita harus menutup aurat, apalagi kita sebagai wanita...

Dua dimensi dalam ilmu logika

Pernahkah anda melihat seseorang wanita, lalu seorang wanita itu terbayang-bayang di dalam  pikiran anda? Ya. Tentu pernah. Yakni, disaat anda melihat seorang wanita, - apalagi seorang yang anda cintai - tentu gambaran wanita tersebut akan selalu hadir dalam pikiran anda, dimana pun, kapanpun tanpa mengenal ruang dan waktu. Oke. Ilustrasi sederhana ini akan sedikit memberi kejelasan tentang dua dimensi atau dua ruang yang sering diulang-ulang di dalam kajian ilmu mantik. Ruang yang pertama diistilahkan dengan al-Kharij (alam luar), dan yang kedua adalah az-Zihn (alam nalar). Wanita dengan segala ciri-ciri yang ia miliki yang anda lihat dengan mata kepala anda merupakan wanita yang berada fil kharij (alam luar).  Sedangkan gambaran wanita yang hadir didalam pikiran anda ialah wanita yang berada fizzihni (alam nalar). Dan sebagai catatan, segala sesuatu yang berada  fil kharij atau fizzihni keduanya masih digolongkan kedalam maujud yakni sesuatu yang ada. ...

Perlukah mempelajari Ilmu Mantik?

Maju atau mundur bahkan hancurnya suatu peradaban masyarakat sangat tergantung dari benar atau salah pola pikir dari masyarakat itu sendiri. Mulai dari sebuah pemikiran dilanjutkan dengan tindakan dan diakhiri dengan sebuah peradaban.  Apalagi diera yang serba digital ini, media sosial dijadikan sebagai tempat berternaknya kebencian, caci-maki,sumpah-serapah bahkan vonis yang sangat sensitif pun terasa begitu mudah terucap seolah tidak ada beban, seperti sesat, bida’h, thagut, kafir, murtad dan lain sebagainya. Hal semacam ini biasanya muncul dari sikap ketergesa-gesaan dalammenghukumi sebelum diawali oleh proses pemahaman yang benar terhadap konsep maudhu ’ (subjek), mahmul (predikat) dan juga nisbah (relasi) dari suatu qadhiyyah (proposisi).   Sampai sekarang masih ada kelompok-kelompok yang menvonis pemerintah yang sah –Indonesia misalnya- dengan predikat thagut sehingga sah untuk diperangi dan halal darahnya . Sungguh miris. Tetapi disaat kita tanyaka...

Sejarah singkat Ilmu mantik

Kalau orang Arab memilki kecenderungan dalam sastra, maka orang Yunani mempunyai perhatian besar dalam berdialog dan berdebat. Munculnya kegiatan ini diawali oleh mempertanyakan tentang sesuatu dengan pertanyaan-pertanyaan yang mendasar yaitu Apa ( What )? bagaimana ( how )? kenapa atau untuk apa ( why )? Sebelum filsafat hadir pertanyaan-pertanyaan semacam ini akan diberi jawaban berdasarkan mitos bukan ilmiah. Misalnya kenapa terjadi banjir, gunung meletus, gempa? Maka, diberi jawaban secara mitologi yaitu karena dewa-dewa telah menghentakkan kakinya ke bumi. Kenapa bumi gelap di waktu malam? Karena telah digenggam oleh dewa-dewa raksasa. Kenapa turun hujan? Karena dewa sedang menangis melihat tingkah laku umat manusia. Pungoe keun ? Ya, jeulah pungoe lah.  Jawaban yang seperti ini sama sekali tidak logis dan rasional, karena tidak didasari dari logika dan penelitian ilmiah yang akhirnya bertumpu pada halusinasi semata. Dengan hadirnya filsuf-filsuf besar dari Yunani ...