Tercatat kuat dalam memoriku, awal tahun 1984 seseorang adalah ”aku” bertekad untuk meninggalkan daerah asal menuju ke suatu tempat yang baru yaitu ”A c e h”. Aceh adalah impianku dari sejak kecil di bangku sekolah SD hatiku sudah terpaut dengan Aceh. Setiap kali guru sejarah kelas 5 SD menerangkan tentang Aceh dengan kisah pahlawan-pahlawannya, heroiknya perjuangan Daud bereh (dialek medan) bukan ”ber’eh” menyita seluruh perhatianku ketika di kupas habis oleh seorang guru di depan kelas. Sejak itu cintaku terhadap Aceh memenuhi seluruh jiwaku. Radio transistor milik nenek warna kuning muda di carger dengan baterai Kering ABC setiap malam selalu kuputar ke gelombang RRI Banda Aceh. Berita-berita tentang Aceh habis kulalap setiap malam dari sejak kecilku. Jam sepuluhan malam sunyi tidurku selalu di antar oleh sayup-sayup hilang lenyap irama ”bungoeng jeumpa” sampai speaker radio berbunyi …..tit…..tit….tit…..tit siaran malam berakhir. Sebenarnya pada tahun 1979 aku sudah mengi...
Mereguk tetesan ilmu lewat membaca