Tercatat kuat dalam memoriku, awal tahun 1984 seseorang adalah ”aku” bertekad untuk meninggalkan daerah asal menuju ke suatu tempat yang baru yaitu ”A c e h”. Aceh adalah impianku dari sejak kecil di bangku sekolah SD hatiku sudah terpaut dengan Aceh.
Setiap kali guru sejarah kelas 5 SD menerangkan tentang Aceh dengan kisah pahlawan-pahlawannya, heroiknya perjuangan Daud bereh (dialek medan) bukan ”ber’eh” menyita seluruh perhatianku ketika di kupas habis oleh seorang guru di depan kelas. Sejak itu cintaku terhadap Aceh memenuhi seluruh jiwaku.
Radio transistor milik nenek warna kuning muda di carger dengan baterai Kering ABC setiap malam selalu kuputar ke gelombang RRI Banda Aceh. Berita-berita tentang Aceh habis kulalap setiap malam dari sejak kecilku. Jam sepuluhan malam sunyi tidurku selalu di antar oleh sayup-sayup hilang lenyap irama ”bungoeng jeumpa” sampai speaker radio berbunyi …..tit…..tit….tit…..tit siaran malam berakhir.
Sebenarnya pada tahun 1979 aku sudah menginjakkan kaki di kampung Ujung Rimba, kecamatan mutiara, Beureunun 3 tahun setelah deklarator Tgk Muhammad Hasan Di Tiroe mendeklarasikan gerakan Aceh Merdeka thn 1976. Usiaku waktu itu masih usia sekolah.
Aku tinggal di rumah seorang tokoh bernama Bapak Husain B.E dan Ibu yang lembut Bernama Rasyidah Seorang guru SMA di geulumpang minyeuk. Namun, aku hanya sempat tinggal di ujung rimba sekitar enam bulan. Akibat gejolak akses dari deklarasi GAM situasi memanas. Non Aceh diperintahkan sesegera mungkin meninggalkan Aceh. Gagallah yang di janjikan oleh Ibu Rasyidah, yaitu aku akan di sekolahkan di geulumpang minyeuk pada ajaran baru nantinya.
Tinggallah kenangan, kenangan sore bersama segelas kopi dan kue kesukaanku timphan dan pulut panggang, aku yang selalu memandang ke luar dari jendela kamar tidurku akan pohon-pohon mulieng berbaris tanpa aturan dari rumah tua adat aceh dengan 15 anak tangga di ujung rimba.
Radio transistor milik nenek warna kuning muda di carger dengan baterai Kering ABC setiap malam selalu kuputar ke gelombang RRI Banda Aceh. Berita-berita tentang Aceh habis kulalap setiap malam dari sejak kecilku. Jam sepuluhan malam sunyi tidurku selalu di antar oleh sayup-sayup hilang lenyap irama ”bungoeng jeumpa” sampai speaker radio berbunyi …..tit…..tit….tit…..tit siaran malam berakhir.
Sebenarnya pada tahun 1979 aku sudah menginjakkan kaki di kampung Ujung Rimba, kecamatan mutiara, Beureunun 3 tahun setelah deklarator Tgk Muhammad Hasan Di Tiroe mendeklarasikan gerakan Aceh Merdeka thn 1976. Usiaku waktu itu masih usia sekolah.
Aku tinggal di rumah seorang tokoh bernama Bapak Husain B.E dan Ibu yang lembut Bernama Rasyidah Seorang guru SMA di geulumpang minyeuk. Namun, aku hanya sempat tinggal di ujung rimba sekitar enam bulan. Akibat gejolak akses dari deklarasi GAM situasi memanas. Non Aceh diperintahkan sesegera mungkin meninggalkan Aceh. Gagallah yang di janjikan oleh Ibu Rasyidah, yaitu aku akan di sekolahkan di geulumpang minyeuk pada ajaran baru nantinya.
Tinggallah kenangan, kenangan sore bersama segelas kopi dan kue kesukaanku timphan dan pulut panggang, aku yang selalu memandang ke luar dari jendela kamar tidurku akan pohon-pohon mulieng berbaris tanpa aturan dari rumah tua adat aceh dengan 15 anak tangga di ujung rimba.
Tertakdirkan pada waktu itu aku seakan menyaksikan kepahlawanan Aceh dari dekat, karena Ujung Rimba dan gampong Tiroe tidaklah terlalu jauh. Kembali ke 1984, jiwaku kembali terdorong kuat untuk hijrah ke aceh. Tepat jam 05 sore roda angkutan umum bus ‘’tramindo’’ mulai berputar seiring dengan keinginan kuat untuk memutar balik pondasi kehidupan dari ‘’nol’’ seperti di pom bensin.
Berangkat sendiri, isi kepalaku aku nolkan. aku tidak membawa apapun selain selembar sapu tangan yang kulilitkan di tanganku. Mobil tramindo yang membawaku terus menelusuri malam yang dingin, sayup-sayup angin malam menusuk melalui celah kaca jendela, pikiranku kosong, perutku kosong, pandangan mataku kosong, aku benar-benar kosong, aku merasa baru terlahir dan aku baru saja lahir.
Sesampainya aku di tanah aulia, tanah pahlawan “Aceh” aku ingin mengisi semua kekosongan dengan membaca Al Qur’an, menulis Al Qur’an; begitu kata- kata yang ada di benakku. Mobil angkutan umum terus meluncur menembus malam melewati kota-kota yang tentunya asing bagiku, bahasanya yang hampir semuanya tidakku mengerti.
Perhatianku tak pernah lepas dari setiap gerak-gerik yang terdekat dengan ku, semuanya kuperhatikan, semua pamplet jalanan dan di depan toko kubaca dengan sangat seksama tak satu pun pamplet yang terlewatkan sampai penjaja ‘’pisang sale’’ yang nampak begitu semangat menjajakan dagangannya di panton labu tak luput dari perhatianku, walau bahasanya tak dapat kupahami.
Tengah malam yang semakin dingin khayalku terus, seakan tersusun merajut di otakku. Aku tersandar sendirian di bangku ‘’tramindo’’ sesekali aku memeluk kedua lututku karena dingin. Mata ku tak dapat kupejamkan disepanjang perjalanan, keroncongan di perutku seakan tak mengizinkan untuk itu, bekalku cuma cukup untuk tiket perjalanan. Sisa makan siang di warung emperan tadi sebelum berangkat cuma tersisa pecahan Rp 200 (uang kertas lembaran merah) terselip di saku celanaku.
Setelah melewati sepertiga malam, akhirnya bus berhenti di suatu simpang yang sempat ku baca pada pamplet kecil melalui sorot lampu simpang tamboe, Samalanga, sesuai dengan tiket keberangkatan dan alamat yang di berikan oleh seorang teman. Akupun turun dengan langkah hoyong dan lunglai, deru mobil berangkat meninggalku sendiri terpaku di simpang itu, kemudian hitam pekat, gelap gulita, tak ada cahaya, benar-benar gelap, melengkapi semua kekosongan ku.
Berangkat sendiri, isi kepalaku aku nolkan. aku tidak membawa apapun selain selembar sapu tangan yang kulilitkan di tanganku. Mobil tramindo yang membawaku terus menelusuri malam yang dingin, sayup-sayup angin malam menusuk melalui celah kaca jendela, pikiranku kosong, perutku kosong, pandangan mataku kosong, aku benar-benar kosong, aku merasa baru terlahir dan aku baru saja lahir.
Sesampainya aku di tanah aulia, tanah pahlawan “Aceh” aku ingin mengisi semua kekosongan dengan membaca Al Qur’an, menulis Al Qur’an; begitu kata- kata yang ada di benakku. Mobil angkutan umum terus meluncur menembus malam melewati kota-kota yang tentunya asing bagiku, bahasanya yang hampir semuanya tidakku mengerti.
Perhatianku tak pernah lepas dari setiap gerak-gerik yang terdekat dengan ku, semuanya kuperhatikan, semua pamplet jalanan dan di depan toko kubaca dengan sangat seksama tak satu pun pamplet yang terlewatkan sampai penjaja ‘’pisang sale’’ yang nampak begitu semangat menjajakan dagangannya di panton labu tak luput dari perhatianku, walau bahasanya tak dapat kupahami.
Tengah malam yang semakin dingin khayalku terus, seakan tersusun merajut di otakku. Aku tersandar sendirian di bangku ‘’tramindo’’ sesekali aku memeluk kedua lututku karena dingin. Mata ku tak dapat kupejamkan disepanjang perjalanan, keroncongan di perutku seakan tak mengizinkan untuk itu, bekalku cuma cukup untuk tiket perjalanan. Sisa makan siang di warung emperan tadi sebelum berangkat cuma tersisa pecahan Rp 200 (uang kertas lembaran merah) terselip di saku celanaku.
Setelah melewati sepertiga malam, akhirnya bus berhenti di suatu simpang yang sempat ku baca pada pamplet kecil melalui sorot lampu simpang tamboe, Samalanga, sesuai dengan tiket keberangkatan dan alamat yang di berikan oleh seorang teman. Akupun turun dengan langkah hoyong dan lunglai, deru mobil berangkat meninggalku sendiri terpaku di simpang itu, kemudian hitam pekat, gelap gulita, tak ada cahaya, benar-benar gelap, melengkapi semua kekosongan ku.
Akupun terduduk, yang kukira dan sempat kuraba tempat dudukku itu adalah sebuah bangku rajut bambu, pandangan kosongku kini menjadi hitam pekat yang kutaksir kira- kira saat itu pukul empat pagi. Aku tak berani beranjak dari tempat dudukku yang kayaknya di depan sebuah kios kecil. Aku sangat berharap adanya secercah cahaya mobil yang lewat untuk memastikan apa sebenarnya tumpukan gerombolan hitam-hitam yang teronggok di pinggiran jalanan itu. Akh, hantu belau, karena dihantui rasa takut yang berkecamuk.
Aku harus cepat menentukan pilihan untuk beranjak dari tempat ini mencari arah yang sedikit terang dari bantuan cahaya langit yang buminya tidak banyak ditumbuhi pepohonan. Akupun berjalan gontai ke satu arah pinggir jalan aspal, ku taksir arah ke timur melewati onggokan-onggokan hitam, yang setelah kuamati dengan hati-hati ternyata itu adalah kawanan sapi.
Aku terus berjalan dengan langkah kecut dan takut, sampailah aku di sebuah yang ku anggap kios kecil kira-kira berukuran 3 x 2 meter dipinggiran jalan yang terletak 2 Meter dari aspal jalan di bawah pohon besar dan rindang. Aku memberanikan diri untuk mengetuk pintu bangunan yang terbuat dari papan lapuk itu berharap adanya penjaga kios tersebut didalamnya untuk sekedar meminta bantuan numpang duduk sambil menunggu matahari terbit.
Malam masih hitam pekat tanpa cahaya di bawah pohon besar dan rindang itu. Maklum tahun itu belum ada penerangan listrik). Assalamu Alaikum……………………….Assalamu Alaikum Warahmatullahi wabarakatuh…..tok….tok…..tok…
Salam yang ku hafal dan selalu kuulang- ulang dari semenjak di kampungku supaya agak lebih fasih dan tidak canggung sebagai modal pertama untuk bisa menyesuaikan diri di tanah aulia, Aceh. Aku berusaha mengetuk dinding dan memberi salam agak lebih keras, lebih 20 kali tak ada jawaban. Hening, sunyi, senyap, hitam pekat, gelap gulita.
Padahal pada salam pertama sudah ada jawaban. Namun aku tak dapat mendengarnya. KARENA YANG AKU KETUK ADALAH DINDING PAPAN KUBURAN SYAHID LAPAN(KUBU LAPAN). Hal ini aku ketahui pada pagi harinya.
"Apabila ada seseorang yang melewati kuburan saudaranya sesama mukmin yang dia kenal di dunia, lalu dia memberi salam, maka saudaranya akan akan menjawab salamnya. (Hadist riwayat Ibnu Abbas Radhiallahu Anhuma)"
"Selamat datang di Aceh wahai anak muda yang kosong, selamat dilahirkan kembali, duduk dan tinggallah di tanah aulia, tanah warisan para pahlawan, silahkan berkerja sama menebar kebaikan dengan para cucu cicit para syuhada” salah satunya adalah Tgk Helmi Abu Bakar Kembang tanjong, dosen STAIA MUDI MESRA samalanga.
Aku terus berjalan dengan langkah kecut dan takut, sampailah aku di sebuah yang ku anggap kios kecil kira-kira berukuran 3 x 2 meter dipinggiran jalan yang terletak 2 Meter dari aspal jalan di bawah pohon besar dan rindang. Aku memberanikan diri untuk mengetuk pintu bangunan yang terbuat dari papan lapuk itu berharap adanya penjaga kios tersebut didalamnya untuk sekedar meminta bantuan numpang duduk sambil menunggu matahari terbit.
Malam masih hitam pekat tanpa cahaya di bawah pohon besar dan rindang itu. Maklum tahun itu belum ada penerangan listrik). Assalamu Alaikum……………………….Assalamu Alaikum Warahmatullahi wabarakatuh…..tok….tok…..tok…
Salam yang ku hafal dan selalu kuulang- ulang dari semenjak di kampungku supaya agak lebih fasih dan tidak canggung sebagai modal pertama untuk bisa menyesuaikan diri di tanah aulia, Aceh. Aku berusaha mengetuk dinding dan memberi salam agak lebih keras, lebih 20 kali tak ada jawaban. Hening, sunyi, senyap, hitam pekat, gelap gulita.
Padahal pada salam pertama sudah ada jawaban. Namun aku tak dapat mendengarnya. KARENA YANG AKU KETUK ADALAH DINDING PAPAN KUBURAN SYAHID LAPAN(KUBU LAPAN). Hal ini aku ketahui pada pagi harinya.
مَا مِنْ أَحَدٍ يَمُرُّ بِقَبْرِ أَخِيهِ الْمُؤْمِنِ كَانَ يَعْرِفُهُ فِي
الدُّنْيَا فَيُسَلِّمُ عَلَيْهِ إلَّا عَرَفَهُ وَرَدَّ عَلَيْهِ السَّلَام
"Apabila ada seseorang yang melewati kuburan saudaranya sesama mukmin yang dia kenal di dunia, lalu dia memberi salam, maka saudaranya akan akan menjawab salamnya. (Hadist riwayat Ibnu Abbas Radhiallahu Anhuma)"
"Selamat datang di Aceh wahai anak muda yang kosong, selamat dilahirkan kembali, duduk dan tinggallah di tanah aulia, tanah warisan para pahlawan, silahkan berkerja sama menebar kebaikan dengan para cucu cicit para syuhada” salah satunya adalah Tgk Helmi Abu Bakar Kembang tanjong, dosen STAIA MUDI MESRA samalanga.
Sepertinya begitulah pesan insting dari Kubu syahid lapan, Pesan itu juga mengisyaratkan “tak boleh masuk Aceh tanpa minta izin kepada Para Pahlawan ”
Kini aku telah mengisi sedikit kekosonganku dengan peutuah Guru-Guru di tanah aulia ini, terakhir aku termenung memandang ke luar dari jendela dan nampak kembali barisan pohon pohon ‘’MULIENG’’ yang tak beraturan seperti di ujung rimba dulu dari sebuah rumah mungil beranak tangga, gampong Bale Ulim Pidie jaya.
Kini aku menunggu giliran panggilan salam dari kuburan, tempat kembali, dan akan menjadi kosong kembali seperti pertama aku melangkahkan kaki dan mengetuk pintu kubu Syahid Lapan.
( Hamdan Amran, PIJAY 18/10/2018).
Cerita ini saya copas dari dari akun Facebook resmi beliau dan juga pernah beliau ceritakan juga kepada kami pada saat mengajar, beliau adalah guru kami yang mulia Tgk Hamdan bin Amran.
Cerita ini saya copas dari dari akun Facebook resmi beliau dan juga pernah beliau ceritakan juga kepada kami pada saat mengajar, beliau adalah guru kami yang mulia Tgk Hamdan bin Amran.
Sosok guru yang dikenal tegas, ikhlas, dan juga sangat disiplin dalam hal belajar dan mengajar para santri sehingga tak dapat dipungkiri banyak dari murid-murid beliau yang kini sudah sukses di bidangnya masing-masing. Ada yang menjadi hafidh, khatty dan juga mumpuni dalam kitab kuning.
Tetapi kini beliau telah meninggalkan dunia untuk selama-lamanya, tepat pada pada tgl 12 Desember 2019 ba’da dhuhur beliau telah berpulang kesisi rabbnya dengan meninggalkan seorang istri yang beliau nikahi kurang lebih setahun yang lalu. Kesedihan bercampur tangisan menyertai pemergian beliau tanda beliau sangat dicintai dan dibutuhkan oleh umat terutama para murid yang teringat dengan jasa beliau yang tak akan pernah terbalas untuk selama-lamanya.
Walaupun beliau kini telah tiada namun ilmu yang pernah beliau ajarkan tak akan putus-putus mengalir bagaikan tetesan embun di Padang tandus dan mudah-mudahan Allah SWT melapangkan kuburnya dan menjadikannya salah satu kebun dari kebun-kebun syurga.
Amin ya rabbal alamin.
Tetapi kini beliau telah meninggalkan dunia untuk selama-lamanya, tepat pada pada tgl 12 Desember 2019 ba’da dhuhur beliau telah berpulang kesisi rabbnya dengan meninggalkan seorang istri yang beliau nikahi kurang lebih setahun yang lalu. Kesedihan bercampur tangisan menyertai pemergian beliau tanda beliau sangat dicintai dan dibutuhkan oleh umat terutama para murid yang teringat dengan jasa beliau yang tak akan pernah terbalas untuk selama-lamanya.
Walaupun beliau kini telah tiada namun ilmu yang pernah beliau ajarkan tak akan putus-putus mengalir bagaikan tetesan embun di Padang tandus dan mudah-mudahan Allah SWT melapangkan kuburnya dan menjadikannya salah satu kebun dari kebun-kebun syurga.
Amin ya rabbal alamin.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ ، وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ ، وَنَقِّهِ من الْخَطَايَا كَمَا
نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ ، وَأَهْلًا خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ ، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ ، وَأَدْخله
الْجَنَّةَ وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ ، و مِنْ عَذَابِ النَّارِامين يا رب العالمين
Comments
Post a Comment