Skip to main content

Mode bertahan





Tidak semua wajah yang cerah adalah tanda hati yang tenang.

Kadang di balik senyum yang tampak kuat dan stabil ada luka yang sengaja ditutupi agar tidak terlihat. Manusia modern hidup dengan beban yang berbeda: tekanan sosial, perbandingan yang terus-menerus, tuntutan hasil yang instan dan arus informasi yang tak pernah berhenti. Semua itu membuat seseorang lupa arah, kehilangan fokus, dan bingung dengan apa yang sebenarnya sedang ia jalani.

Kita merasa kalah dalam perjalanan, kecewa dengan hasil yang terlambat datang, merasa tertinggal dari orang lain, kehabisan semangat dan kesulitan menjaga konsistensi. Ini sudah menjadi penyakit umum yang menyebar diam-diam tanpa gejala fisik, tapi menghancurkan ketenangan batin. Selama tidak ada kesadaran atau cara mengobatinya, hati tetap akan terpenjara meski tubuh bebas bergerak ke mana saja.

Jika ingin menilai keadaan hati kita saat ini, tidak perlu melihat hal yang besar, cukup perhatikan bagaimana kita bereaksi ketika masalah datang. Apakah masih dengan pola lama yang penuh kecemasan dan panik? Atau sudah mulai hadir cara pandang baru yang lebih matang, tenang, dan objektif?

Ketika hati sudah mampu melihat masalah dari berbagai sudut dan tidak lagi terpancing oleh emosi sesaat, itu pertanda ada pertumbuhan. Kita sedang berada di jalur yang benar.

Kesalahan banyak orang adalah menyempitkan makna sukses hanya pada pencapaian besar. Akibatnya, perjalanan terasa membosankan, motivasi cepat hilang  dan kita mudah menyerah karena hasilnya belum terlihat. Padahal, keberhasilan seringkali bukan soal satu langkah besar, melainkan akumulasi langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.

Bayangkan seseorang memukul batu besar dengan palu. Setelah 100 kali pukulan, batu itu tampak sama, tidak retak, tidak berubah. Namun pada pukulan ke-101, muncul garis kecil. Pada pukulan ke-110, batu itu pecah menjadi beberapa bagian. Yang membuat batu itu terbelah bukan pukulan terakhir, tetapi semua pukulan yang tidak terlihat hasilnya yang telah terjadi sebelumnya.

Begitulah perjalanan hidup:
Yang tampak hasilnya hanya puncak. Prosesnya selalu tersembunyi.

Jadi, ketika usaha belum menunjukkan tanda-tanda keberhasilan setelah pengerahan usaha yang maksimal, jangan buru-buru menyerah. Mimpi besar membutuhkan waktu, kesabaran, arah yang jelas, dan keberanian untuk bertahan ketika prosesnya terasa lambat.

Tetap lanjutkan langkahmu—meski kecil, meski pelan—asal tidak berhenti. Karena kadang, yang memisahkan gagal dan berhasil hanya satu hal:

Seseorang berhenti terlalu cepat, sementara yang lain bertahan sedikit lebih lama.

Comments

Popular posts from this blog

Memahami konsep dalalah muthabaqah, tadhammun, dan iltizam.

Apa yang anda pahami ketika mendengar kata "Corona"? Ya, tentu yang anda pahami ialah nama bagi satu virus yang mematikan yang berasal dari Wuhan China yang dalam beberapa bulan ini menjadi trending topik hampir di seluruh media sosial dan juga mainstream. Apa yang anda pahami ketika mendengar kata "Wanda"? Ya, anda yang mengenalnya, tentu anda akan bilang bahwa dia seorang wanita yang berasal dari kampung seberang, yang baru tamat sekolah, yang memiliki wajah lumayan cantik, ala kadar lah pokoknya. Dan masih banyak lagi ciri-ciri yang dia miliki yang membedakannya dengan orang-orang yang lain. Boleh saja anda memahami wanita atau lelaki yang lain yang namanya juga "Wanda" yang tidak sama seperti yang mendarat di kepala saya. Karena, yang menjadi poinnya disini ialah ketika mendengar kata tersebut, ada sesuatu yang anda pahami disana. Yaitu, seseorang yang bernama Wanda yang anda kenal itu. Nah, di dalam disiplin ilmu mantiq (logika) pemahaman a...

Tarim antara fanatik dan ilmu

  Niat baik bisa saja berakibat fatal apabila berlandaskan fanatisme, bukan ilmu. Menisbatkan suatu perkataan kepada Rasulullah saw dengan tujuan agar orang lain menjadi “baik”, padahal Rasulullah saw tidak pernah mengatakannya merupakan perkara serius. Sebab fal yatabawwa’ maq‘adahu min an-nār , yakni hendaklah ia menyiapkan tempat duduknya di neraka. Sebelum saya berangkat ke Tarim, ada seorang oknum penceramah yang mengatakan bahwa wanita di Tarim seumur hidup hanya tiga kali keluar rumah. Pertama, ketika masih kecil, mereka keluar bersama orang tuanya. Kedua, ketika menikah, mereka keluar dari rumah orang tua menuju rumah suaminya. Ketiga, ketika meninggal dunia, mereka dibawa ke kuburan. Namun, ketika saya berada di Tarim, faktanya justru berbeda. Saya melihat dengan mata kepala sendiri bahwa ada wanita Tarim yang keluar rumah, seperti pergi ke sekolah, berziarah, berbelanja, dan lain-lain. Lantas, di mana fakta yang mengatakan bahwa mereka hanya tiga kali keluar rumah sepanja...