Niat baik bisa saja berakibat fatal apabila berlandaskan kepada fanatik bukan kepada ilmu. Menisbatkan suatu perkataan kepada Rasulullah saw dengan tujuan agar orang lain menjadi "baik" padahal Rasulullah saw tidak pernah berkata demikian, maka fal yatabawwak maqa'dahu min an-nar yakni telah disediakan tempatnya di neraka.
Sebelum saya berangkat ke Tarim, ada oknum penceramah yang mengatakan bahwa kalau wanita di Tarim itu seumur hidup cuma tiga kali saja keluar rumah, yang pertama ketika masih kecil keluar bersama orang tuanya, kedua ketika menikah keluar dari rumah orang tua ke rumah suaminya, ketiga saat mereka meninggal di bawa ke kuburannya.
Tetapi pas saya berada di Tarim, faktanya sungguh berbalik. Saya melihat dengan kepala saya sendiri bahwa ada kok wanita Tarim yang keluar rumah seperti pergi ke sekolah, ziarah, belanja dan lain-lain. Terus yang katanya cuma tiga kali keluar rumah itu dimana? Jawabannya itu hanyalah fiktif belaka bukan sebuah fakta.
Narasi saya ini bukan bermaksud untuk merendahkan para wanita Tarim. Bukan. Mereka wanita mulia, nyatanya selama saya berada disini tidak pernah sekalipun melihat wanita aqil balig yang terbuka wajahnya. Aurat mereka terjaga dengan baik, dan tidak juga mereka lalu-lalang, putar kesana kemari. Gak ada. Itu di antara fakta yang saya lihat. Tentu juga ada fakta-fakta yang lain. Dan tidak bisa dipungkiri bahwa wanita yang seperti itu juga ada di tempat yang lain. Sekali lagi, wanita seperti itu juga ada di tempat yang lain.
Jadi menganggap mereka itu mulia -begitulah faktanya- ialah satu hal, terlalu melebih-lebihkan tanpa adanya fakta itu perkara yang lain. Saya yakin mereka juga tidak suka terlalu dilebih-lebihkan apalagi faktanya bukan demikian. Alih-alih ingin menyampaikan kelebihan mereka, tetapi yang mereka terima malah pembulian disebabkan penyampain informasi yang keliru.
Kenapa hal begini bisa terjadi? Jawabannya karena berlandaskan fanatik bukan berbasis Ilmu.
Ada juga yang mengklaim bahwa doa di kota Tarim itu dikabulkan oleh Allah swt walaupun di dalam kamar mandi.
Ini apa?
Wahai kaum muslimin dan muslimat rahimakumullah, kota tarim itu sama saja dengan kota-kota yang lain. Sama aja. Dia itu bukan kota suci. Bukan. Kota suci umat Islam itu hanya Mekkah, Madinah dan Bait al-Maqdis di Palestina. Kota Tarim tidak termasuk. Dia itu sama dengan Aceh, Kairo, Damaskus dan tempat-tempat yang lain di di dunia ini. Sama aja. Secara buq'ahnya (tanah) itu sama. Dia itu bukan tempat suci.
Pernyataan ini tidak menafikan mulianya kota Tarim itu karena adanya banyak ulama baik dari golongan masyaikh dan habaib, ribuan para wali, budayanya yang belum terkontaminasi dengan budaya luar dan lain-lain, hal ini merupakan kelebihan yang luar biasa. Namun demikian, kelebihan seperti ini tidak bisa kita nafikan juga ada dikota-kota lain di dunia ini. walaupun disana tentu adanya lebih kurang. Jadi kualitas berdoa di kota Tarim sama saja dengan berdoa di kota-kota yang lain.
Jadi klaim yang mengatakan bahwa di kota Tarim maqbul doa itu ialah kalam bathil (perkataan dusta), apalagi di dalam kamar mandi. Lantas siapa yang menyuruh anda untuk berdoa di dalam kamar mandi?
Kaum muslimin-muslimat rahimakumullah, doa yang mustajab itu berdoa dengan hadirnya hati, di waktu yang mustajab seperti 1/3 malam, ketika khatib duduk diantara dua khutbah, yang ideal lagi -kalau anda mampu- di depan Ka'bah berpapasan dengan multazam misalnya bukan di kota Tarim secara buqa'h. Sekali lagi secara buqa'h. Kualitas berdoa di kota Tarim -sekali lagi- sama saja dengan berdoa di kota yang lain.
Maka stop terlalu melebih-lebihkan tentang kota Tarim seperti itu, karena faktanya tidak demikian. Walaupun maksud anda terkadang baik, tetapi yang muncul di tengah-tengah umat itu caci-maki, sumpah-serapah, pembulian demi pembulian kepada kota Tarim. Alih-alih ingin menunjukkan keistimewaan kota Tarim, tetapi yang muncul ke permukaan malah sebaliknya sehingga sisi keistimewaan yang memang ada di kota Tarim itu tertutup rapat disebabkan fakta-fakta buruk yang anda sampaikan di pangung-pangung dakwah itu.
Kenapa hal semacam ini bisa terjadi? Jawabannya karena berlandaskan kepada fanatik bukan berbasis ilmu.
Kalau anda berdalih misalnya hal-hal semacam itu pernah disampaikan oleh seorang wali, maka saya tegaskan disini bahwa ucapan dan perbuatan dari seorang wali tidak boleh bertentangan dengan syariat. Titik. Maka, kalau kita dihadapkan dengan ucapan seorang wali yang secara zahir bertentangan dengan syariat, disana kita punya dua pilihan, yang pertama tinggalkan ucapan tersebut artinya jangan diikuti, apalagi disampaikan kepada umat, yang kedua ucapan tersebut di takwil dengan makna yang sesuai dengan syariat.
Jadi gak boleh anda menyampaikan ucapan dari seorang wali secara masif dan vulgar. Alih-alih ingin menunjukkan keistimewaan seorang wali tapi efek dari penyampain itu ialah caci-maki terhadap wali itu sendiri.
Saya kasih contoh tentang seorang wali besar, syekh abi bakar ibn Salim yang pernah berucap bahwa jika saya tidak malu dengan nabi, maka saya akan memadamkan api neraka dengan jari kelingkingku, tentang mi'rajnya sayyid faqih al-muqaddam 70 kali dalam sehari, dan ucapan-ucapan wali yang lain.
Ucapan semacam ini kalau dipahami secara zahir tentu bermasalah dengan syariat. Interpretasi yang salah terhadap ucapan seorang wali berakibat fatal. Maka, kalau anda tidak memahaminya, tinggalkan ucapan itu tanpa perlu menyampaikan kepada umat, andaipun anda itu paham, cukup untuk konsumsi pribadi tanpa perlu menjadikan sebagai materi dakwah. Kurangi membahas tentang keramat. Karena hal tersebut tidak bermanfaat bagi seorang murid apalagi orang awam. Yang perlu kita tiru dan kampanyekan dari seorang wali itu bukan karamahnya tetapi istiqamah mereka di dalam belajar dan ibadah.
Dan ini bukan hanya tentang Tarim. Tetapi kaedah umum yang berlaku dimana saja, namun pilihan saya dalam menyoroti Tarim karena saya melihat ada beberapa oknum yang belajar satu hingga dua tahun disini, pulang ke kampung, terlalu dielu-elukan oleh masyarakat, dakwah kesana kemari, padahal basic ilmu yang belum tercukupi, sehingga roh meupeugah atra hana meupu.
Padahal ketika saya belajar disini, sama juga seperti di dayah-dayah Aceh. Belajar tauhid, fiqh, usul fiqh, tasawwuf dan lain-lain. Gak ada tuh yang bilang kalau di Tarim itu maqbul doa hatta dalam kamar mandi, bahkan sangat jarang menceritakan masalah keramat-keramat para wali. Bahkan para habaib dan masyaikh disini pun sangat menyayangkan hal demikian, kesannya ingin menunjukkan keistimewaan Tarim kepada masyarakat, tetapi yang terjadi ialah memperburuk citra Tarim itu sendiri.
Kenapa hal semacam itu bisa terjadi?
Maka jawabannya lagi-lagi karena berlandaskan kepada fanatik bukan kepada ilmu.
Dari itu YOK KITA BELAJAR.

Comments
Post a Comment