Sebenarnya lafadz bukanlah objek pembahasan dari pada ilmu mantik. Karena fungsi dari disiplin ilmu mantik - sebagaimana yang telah kita ketahui- ialah menjaga pikiran agar dalam proses berpikir tidak jatuh ke dalam jurang kesalahan. Dan ranah daripada berpikir itu sendiri ialah makna bukan lafadz.
Nah, karena fungsi dari ilmu mantik ialah menjaga pikiran dan ranah berpikir ialah makna. Maka yang di bahas di dalam ilmu mantik ialah tentang makna-makna bukan tentang lafadz-lafadz. Namun, untuk mampu mengungkapkan dan menangkap sebuah makna dibutuhkanlah pemahaman yang baik dan benar terkait dengan dunia lafadz. Karena lafadz lah alternatif yang paling efektif sebagai dalalah (penunjuk) terhadap makna yang ada di dalam hati.
Nah, karena dua alasan inilah manatiqah akhirnya membuat satu pembahasan khusus tentang lafadz yang dikenal dengan mabahisul alfhadz di dalam disiplin ilmu logika. Yang jadi pertanyaan sekarang adalah apa itu lafadz?
Secara sederhana lafadz ini bisa diartikan dengan suara sebagai penunjuk terhadap makna. Jadi, makna yang ada di dalam hati bisa diungkapkan dengan berbagai alternatif, diantaranya isyarat, tulisan dan suara. Sebagai contoh misalkan anda sedang lapar (makna).
Nah. Untuk mengungkapkan anda sedang lapar -yang mana dia itu merupakan makna- ada berbagai cara, diantaranya yaitu isyarat, misalnya anda memasang muka agak sedih sambil menggosok-gosok perut. Bisa juga dengan tulisan, seperti anda menulis "saya sedang lapar" dan anda tunjukkan tulisan tersebut kepada orang lain. Dan yang terakhir yaitu dengan langsung mengungkapkan dengan suara yaitu "saya sedang lapar".
Diantara tiga contoh ini, model yang terakhir itulah yang dinamakan dengan lafadz, karena dia itu merupakan "suara" sebagai pengungkapan terhadap makna yang ada di dalam hati. Mungkin tidak sukar untuk memahami tentang definisi tentang lafadz ini.
Selanjutnya ialah tentang klasifikasi lafadz di dalam ilmu mantik. Untuk lebih mudah perhatikan uraian dibawah ini:
lafadz adakala dipakai atau tidak. Yang pertama dinamakan dengan musta’mal dan yang kedua dinamakan dengan muhmal. Yang musta’mal adakala bagiannya menunjuki kepada makna atau tidak. Yang pertama dinamakan dengan mufrad dan yang kedua dinamakan dengan murakkab.
Yang pertama adakala terbenar kepada banyak afrad (individu) atau tidak. Yang pertama dinamakan dengan kully (universal) yang kedua dinamakan dengan juziy (partikular). Yang pertama adakala menjadi bagian dari mahiyyah atau keluar dari mahiyyah atau diri mahiyyah.
Yang pertama dinamakan dengan kully zaty yang kedua dinamakan dengan kully 'aridhi dan yang ketiga dinamakan dengan nau’ (spesies), Yang pertama adakala terbenar kepada mahiyyah dan terbenar kepada lain mahiyyah dan adakala hanya khusus pada mahiyyah. Yang pertama dinamakan dengan jins (genus) dan yang kedua dinamakan dengan fashl (diferensia).
Dan yang pertama (jins), adakala dibawahnya tidak ada jins lagi tapi diatasnya ada beberapa jins atau adakala diatasnya tidak ada lagi jins tapi dibawahnya masih ada beberapa jins, atau adakala diatas dan dibawahnya masih ada jins.
Yang pertama dinamakan jins qarib, yang kedua dinamakan jins ba'id dan yang ketiga dinamakan jins wasath. dan yang kedua (kully 'aridhi) adakala terbenar kepada mahiyyah dan lain mahiyyah dan adakala khusus pada mahiyyah. Yang pertama dinamakan 'arad 'am (common accident) dan yang kedua dinamakan 'arad khas (propher accident).
Nah, jins, fashl, 'aradh 'am, 'aradh khas dan nau’ inilah yang diistilahkan dengan kulliyah khamsah (mabady tasawwur) yang menjadi bahan dari definisi dan merupakan salah satu inti dari pembahasan ilmu mantik.
Kesimpulannya lafadz ialah suara sebagai penunjuk terhadap makna yang ada di dalam hati. Pemahaman terhadap lafadz sangat urgen di dalam ilmu logika mengingat dia itu alternatif paling efektif untuk mampu mengungkap dan menangkap suatu makna. Dan ada lima lafadz yang paling penting yang dibahas secara panjang lebar di dalam ilmu mantik yaitu, jins, fashl, 'aradh 'am, 'aradh khas dan na'u.
Comments
Post a Comment