Kalau orang Arab memilki kecenderungan dalam sastra, maka orang Yunani mempunyai perhatian besar dalam berdialog dan berdebat. Munculnya kegiatan ini diawali oleh mempertanyakan tentang sesuatu dengan pertanyaan-pertanyaan yang mendasar yaitu Apa (What)? bagaimana (how)? kenapa atau untuk apa (why)?
Sebelum filsafat hadir pertanyaan-pertanyaan semacam ini akan diberi jawaban berdasarkan mitos bukan ilmiah. Misalnya kenapa terjadi banjir, gunung meletus, gempa? Maka, diberi jawaban secara mitologi yaitu karena dewa-dewa telah menghentakkan kakinya ke bumi. Kenapa bumi gelap di waktu malam? Karena telah digenggam oleh dewa-dewa raksasa. Kenapa turun hujan? Karena dewa sedang menangis melihat tingkah laku umat manusia. Pungoe keun? Ya, jeulah pungoe lah.
Jawaban yang seperti ini sama sekali tidak logis dan rasional, karena tidak didasari dari logika dan penelitian ilmiah yang akhirnya bertumpu pada halusinasi semata. Dengan hadirnya filsuf-filsuf besar dari Yunani seperti, Socrates, Plato, Aristoteles, berubahlah arah berpikir orang Yunani dari mitologi menjadi filosofi. Maka, setiap fenomena yang terjadi di jagat raya ini semuanya dijawab dengan jawaban-jawaban yang dapat memuaskan nalar dan berakhir dengan adanya tuhan.
Seiring berjalannya waktu akhirnya filsafat dibagi menjadi tiga pembahasan pokok:
1. Logic (logika)
2. Etic (moral/akhlak)
3. Estetic (seni)
Nah, salah satu pembagian dari filsafat logic ialah salah satu cabang ilmu yang kita kenal dengan istilah ilmu mantik (logika) yaitu Ilmu yang membahas tentang kaedah-kaedah (undang-undang) yang mesti diimplementasikan dalam setiap proses berpikir agar tidak jatuh kedalam jurang kesesatan.
Setidaknya ada tiga pembahasan pokok dalam ilmu mantik:
1. Ta’rif (definisi).
2. Qismah (pembagian).
3. Qiyas (silogisme).
Ta’rif (definisi) pertama kali dirumuskan oleh Socrates yang didasari oleh munculnya suatu komunitas yang dikenal dengan kaum sofis (sufastaiyyun) yang berdebat hanya untuk mencari kemenangan bukan kebenaran. Dalam berdialog mereka tidak menjelaskan dengan terang terhadap “kata” yang sedang diperdebatkan, sehingga sangat mudah bagi mereka untuk memutar balikkan fakta dan bermain dengan kata-kata.
Di sisi lain mereka juga tidak percaya dengan kebenaran mutlak (universal). Kebenaran menurut mereka hanya bersifat relatif. Artinya tidak ada standar yang dapat mengukur sesuatu itu benar atau salah. Benar menurut saya belum tentu benar menurut anda begitu juga sebaliknya. Hadirnya Socrates menjadi pukulan telak bagi mereka yang mencoba mempertanyakan tentang setiap kata yang sedang diperdebatkan supaya tidak kacau dan rusuh dalam mengambil kesimpulan.
Sehingga ada satu ungkapan yang populer dari Socrates yaitu Define yours term! Atau dalam bahasa Arab haddidu alfhadakum! Yang artinya perjelaskan setiap kata dari ucapanmu! Inilah menjadi garis start dalam merangkum bab ta’rif yang akhirnya disempurnakan lagi oleh Manatiqah-manatiqah (logikawan) selanjutnya.
Tahap selanjutnya hadirnya seorang murid dari Socrates yaitu Plato yang dikenal dengan aflathun ilahiyyah. Dia mencoba untuk merumuskan suatu pembahasan dalam ilmu mantik yaitu qismah (pembagian). Sebenarnya pembahasan qismah ini tidak berbeda jauh dengan pembahasan ta’rif. Malah boleh dikatakan bagian dari pembahasan ta’rif (definisi).
mengingat urgensinya juga untuk menjelaskan konsep dari sesuatu dengan cara pembagian. Maka tidak heran apabila pada sebagian kitab mantik klasik qismah ini digolongkan kedalam definisi bir rasm (analitik) tanpa memisahkannya ke dalam bab yang berbeda.
Setelah Plato, datanglah seorang yang merupakan juga muridnya, yang dikenal sebagai pencetus ilmu mantik yang orang Arab memanggilnya dengan Aristhathalis, yang dalam bahasa latinnya ialah Aristoteles pada paruh abad ke 5 SM. Dialah yang sangat berjasa dalam merumuskan, menyempurnakan, menulis kaedah-kaedah ilmu mantik secara sistematik. Seorang Al ghazali saja kagum dengan kaedah-kaedah rasionalitas yang disuguhkan oleh Aristoteles dalam setiap bukunya.
Aristoteles juga pertama kali yang merumuskan cara untuk menyusun dalil (argumen) yang benar. Kata dia, perumusan ta’rif (definisi) saja tidak cukup untuk tiba pada dialog yang sehat. Tetapi, dibutuhkan juga perumusan bagaimana cara untuk menyuguhkan argumen yang benar untuk sampai pada kesimpulan-kesimpulan yang benar pula.
Perumusan inilah yang kita kenal dengan istilah qiyas (silogisme) atau dengan istilah lain dikenal dengan metode deduktif (qiyas mantiqy). Dan inilah yang menjadi puncak dari pembahasan mantik a-lqadim (logika klasik). Sedangkan mantiq al-hadis (logika modern) menggunakan metode induktif atau yang kita kenal dengan qiyas istiqrai dalam penalaran suatu permasalahan.
Maka,-sekali lagi- karena sumbangsihnya yang begitu besar terhadap ilmu logika, ditetapkanlah Aristoteles sebagai pencetus utama ilmu mantik, walaupun bukan dia yang pertama kali memperkenalkan kaedah-kaedah logika kepada masyarakat Yunani kala itu, apalagi yang sampai kepada kita sekarang yang sudah diolah, dirapikan, di buang syubhat-syubhat falasifah yang bertentangan dengan akidah Islam, dan juga ditambahkan bab-bab yang belum ada sebelumnya oleh para sarjana muslim sehingga sampailah kepada kitab-kitab mantik yang aman, tentram, nyaman dan sentosa.
Awal dari masuknya filsafat kedalam tubuh keilmuan Islam diawali oleh proses penerjemahan besar-besaran dari karya-karya filsafat Yunani ke dalam bahasa Arab pada era dinasti Abbasiyah di Baghdad, Irak. Tepatnya di masa kekhalifahan Abu Ja’far al-Manshur pada abad ke 8 Masehi. Tiga buku Aristoteles diterjemahkan oleh seorang penerjemah yang bernama Ibnu al- Muqaffa’ yang paling hebat saat itu.
Kemudian Untuk menampung buku-buku dari setiap disiplin ilmu, baik ilmu agama atau ilmu umum, maka didirikanlah bait al-Hikmah pada era al-Makmun. Pada masa inilah masa Islam berjaya, boleh dikatakan sebagai masa keemasan, lebih-lebih dari bidang ilmu pengetahuan. Setelahnya para ulama pun mulai menyumbang ide dan juga gagasannya demi kemajuan ilmu mantik (logika).
Sehingga sangat banyak buku-buku ilmu mantik ditulis. Baik yang masih bercampur dengan syubhat falasifah atau yang sudah bersih. Bahkan seorang sufi besar al-Ghazali juga ikut andil didalam memperkaya khazanah ilmu mantik dengan karya Magnum opusnya yaitu mi’yar al-Ilmi. Begitu juga syamsiyyah yang ditulis oleh al-Kati.
Ishaguji yang ditulis Atsiruddin al-Abhari. Dan juga kitab yang paling monumental dikalangan santri adalah as-Sullam Al-munawraq yang ditulis oleh seorang sufi dimasa mudanya yaitu Abdurrahman al-Akhdary. Dan juga sangat banyak kitab-kitab matan, Syarah, maupun hasyiah yang berkontribusi untuk membuka cakrawala dan menembus lautan logika yang dalam, sehingga mutiara-mutiara logika dihadirkan ke permukaan.
Membicarakan tentang histori ilmu mantik tentu tidak cukup dengan tulisan ini, tetapi setidaknya bisa sedikit memulihkan gerah, menumbuhkan rasa cinta bagi anda yang sudah mulai bermain dalam taman-taman ilmu logika.”
Comments
Post a Comment