Skip to main content

LOGIKA SETAN VS LOGIKA TUHAN

 





"Kalau kami tidak memamerkan kecantikan, kemolekan tubuh dan pakaian yang serba terbuka, mana ada orang yang mau menonton dan melihat konten kami hari ini, hidup ini kan butuh uang, uang memang bukan segalanya tapi segalanya butuh uang. Kami kan tidak mencuri, tidak merampok, tidak ganggu orang lain, cuma pakek pakaian yang agak terbuka aja, inipun untuk memenuhi kebutuhan hidup, gak lebih dari itu. Kalau kami gak punya uang, terus kami mau makan apa?"

Bangunan logika seperti ini sudah tidak jarang lagi kita dengar, malah sudah jadi biasa, bahkan tidak nampak lagi bahwa ini merupakan sebuah kesalahan saking sudah biasanya. Inilah yang kita namakan dengan LOGIKA SETAN. Mengapa begitu? Jelas, karena  logika yang dibangun sampe segitunya hanya untuk  dalil pembenaran terhadap sesuatu yang  salah dan jelas dilarang oleh Allah SWT dan rasulnya. 

Mengapa mindset kita hari ini tidak kita putar dan balik, misalnya "kita harus menutup aurat, apalagi kita sebagai wanita yang sangat dimuliakan didalam agama. Aurat kita ini hanya untuk suami bukan untuk dikonsumsi secara umum. Tidakkah kita lihat sesuatu yang tertutup lebih berharga dari pada sesuatu yang terbuka? Orang yang memiliki perhiasan yang begitu mahal harganya, tentu dia akan menjaga dan merawatnya dengan baik, dan tidak dijadikan sebagai konsumsi umum. Kenapa? Jawabannya jelas, karena dia itu sesuatu yang begitu mulia dan berharga. 

Dan soal rezeki itu sudah Allah SWT yang atur. Dan tidakkah kita mendengar janji Allah SWT dalam Al Qur'an bahwa "tidak ada satupun yang melata diatas permukaan bumi, kecuali Allah lah yang menanggung rezeki kepadanya"?. Terus ngapain kita melakukan "sesuatu" untuk mendapatkan rezeki, padahal "sesuatu" itu sangat jelas dilarang oleh yang memberi rezeki itu sendiri? 

 Nah, Logika yang seperti inilah yang kita namakan sebagai  LOGIKA TUHAN. Mengapa? Karena memang logika tersebut dibangun sebagai dalil atau argumen untuk membenarkan suatu kebenaran yang diperintahkan oleh Allah SWT dan rasulnya SAW.  

Kita sebagai manusia -yang mempunyai akal- tentu tidak bisa atau dengan bahasa yang lebih tepatnya "tidak nyaman" untuk melakukan sesuatu yang diawali oleh unsur paksaan. Memang tidak nyaman. Baik itu perkara yang bernuansa kemaksiatan, apalagi yang beraroma ketaatan. Sungguh tidak nyaman. Tapi disana harus ada bangunan logika yang tepat guna untuk merangsang dan memotivasi diri untuk nyaman hingga sanggup melakukan suatu perintah atau meninggalkan suatu larangan.

Rasulullah Saw ketika berdakwah juga memakai metode seperti ini, beliau selalu memberi jawaban yang logis terhadap suatu pertanyaan hingga si penanya itu merasa nyaman dengan syariat yang beliau bawa. Sebagai contoh ketika seorang sahabat yang bernama julaibib meminta izin kepada Rasulullah Saw untuk berzina. "Ya rasulallah izinkan aku untuk berzina"?

Ketika Rasulullah Saw mendengar pertanyaan tersebut, apakah beliau marah? Apakah beliau mencaci maki? Atau bahkan langsung beliau menghukumi si penanya tersebut? Tidak, sama sekali tidak. Tapi beliau mencoba untuk menyuguhkan setumpuk argumen-argumen yang kira-kira dapat membuat si penanya itu nyaman dan merasa bahwa zina itu memang tidak baik dan sangat keji, sehingga saat itu Rasulullah Saw kembali bertanya- secara singkatnya- , "wahai anak muda apakah engkau rela apabila itu terjadi pada ibumu, putrimu atau bibimu? 

Pemuda tersebut menjawab " Tidak, demi Allah aku tidak sama sekali rela dengan hal itu. Maka disaat itu Rasulullah Saw pun menyahut, begitu pula wahai anak muda, tidak seorangpun yang rela bahwa ibunya, putrinya dan bibinya untuk dinodai. Sehingga pada akhirnya pemuda tersebut sadar dan pada akhirnya Rasullullah Saw pun berdoa padanya agar diampuni dosanya, disucikan hatinya dan di jaga kemaluannya.

Apa yang dapat kita ambil pelajaran dari ini? Iya, Rasulullah Saw selalu mendahulukan logika diatas emosi ketika beliau berdakwah, karena memang seseorang tidak nyaman dalam melakukan atau meninggalkan sesuatu tanpa ada bangunan logika yang jelas untuk itu. 

Maka dari itu, mulai sekarang kita harus mampu untuk membangun logika-logika yang benar didalam perkara amar ma'ruf nahi mungkar, baik untuk kita sendiri juga untuk orang lain. Kalau mereka-mereka selalu mencoba untuk membangun logika sebagai upaya untuk membenarkan suatu yang salah, lantas kenapa kita tidak bisa untuk membangun logika-logika guna untuk membenarkan yang benar? 

Kalau syeitan dan iblis mampu Istiqomah dalam mengajak kita ke neraka, lantas kenapa kita tidak bisa untuk istiqamah dalam mengajak diri kita sendiri dan juga orang lain ke surga? 

Jawabannya jelas. Dalam hal ini kita butuh untuk membangun logika-logika yang benar untuk membenarkan suatu kebenaran yang saya istilahkan dengan LOGIKA TUHAN. Dan harus mampu untuk menolak dan membantah Logika-logika yang disuguhkan untuk membenarkan suatu kesalahan yang saya istilahkan dengan LOGIKA SETAN. 

Salam.









Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Memahami konsep dalalah muthabaqah, tadhammun, dan iltizam.

Apa yang anda pahami ketika mendengar kata "Corona"? Ya, tentu yang anda pahami ialah nama bagi satu virus yang mematikan yang berasal dari Wuhan China yang dalam beberapa bulan ini menjadi trending topik hampir di seluruh media sosial dan juga mainstream. Apa yang anda pahami ketika mendengar kata "Wanda"? Ya, anda yang mengenalnya, tentu anda akan bilang bahwa dia seorang wanita yang berasal dari kampung seberang, yang baru tamat sekolah, yang memiliki wajah lumayan cantik, ala kadar lah pokoknya. Dan masih banyak lagi ciri-ciri yang dia miliki yang membedakannya dengan orang-orang yang lain. Boleh saja anda memahami wanita atau lelaki yang lain yang namanya juga "Wanda" yang tidak sama seperti yang mendarat di kepala saya. Karena, yang menjadi poinnya disini ialah ketika mendengar kata tersebut, ada sesuatu yang anda pahami disana. Yaitu, seseorang yang bernama Wanda yang anda kenal itu. Nah, di dalam disiplin ilmu mantiq (logika) pemahaman a...

Mode bertahan

Tidak semua wajah yang cerah adalah tanda hati yang tenang. Kadang di balik senyum yang tampak kuat dan stabil ada luka yang sengaja ditutupi agar tidak terlihat. Manusia modern hidup dengan beban yang berbeda: tekanan sosial, perbandingan yang terus-menerus, tuntutan hasil yang instan dan arus informasi yang tak pernah berhenti. Semua itu membuat seseorang lupa arah, kehilangan fokus, dan bingung dengan apa yang sebenarnya sedang ia jalani. Kita merasa kalah dalam perjalanan, kecewa dengan hasil yang terlambat datang, merasa tertinggal dari orang lain, kehabisan semangat dan kesulitan menjaga konsistensi. Ini sudah menjadi penyakit umum yang menyebar diam-diam tanpa gejala fisik, tapi menghancurkan ketenangan batin. Selama tidak ada kesadaran atau cara mengobatinya, hati tetap akan terpenjara meski tubuh bebas bergerak ke mana saja. Jika ingin menilai keadaan hati kita saat ini, tidak perlu melihat hal yang besar,  cukup perhatikan bagaimana kita bereaksi ketika masalah datang. Ap...

Tarim antara fanatik dan ilmu

  Niat baik bisa saja berakibat fatal apabila berlandaskan kepada fanatik bukan kepada ilmu. Menisbatkan suatu perkataan kepada Rasulullah saw dengan tujuan agar orang lain menjadi "baik" padahal Rasulullah saw tidak pernah berkata demikian, maka fal yatabawwak maqa'dahu min an-nar yakni telah disediakan tempatnya di neraka.  Sebelum saya berangkat ke Tarim, ada oknum penceramah yang mengatakan bahwa kalau wanita di Tarim itu seumur hidup cuma tiga kali saja keluar rumah, yang pertama ketika masih kecil keluar bersama orang tuanya, kedua ketika menikah keluar dari rumah orang tua ke rumah suaminya, ketiga saat mereka meninggal di bawa ke kuburannya.  Tetapi pas saya berada di Tarim, faktanya sungguh berbalik. Saya melihat dengan kepala saya sendiri bahwa ada kok wanita Tarim yang keluar rumah seperti pergi ke sekolah, ziarah, belanja dan lain-lain. Terus yang katanya cuma tiga kali keluar rumah itu dimana? Jawabannya itu hanyalah fiktif belaka bukan sebuah fakta.  Na...