"Kalau kami tidak memamerkan kecantikan, kemolekan tubuh dan pakaian yang serba terbuka, mana ada orang yang mau menonton dan melihat konten kami hari ini, hidup ini kan butuh uang, uang memang bukan segalanya tapi segalanya butuh uang. Kami kan tidak mencuri, tidak merampok, tidak ganggu orang lain, cuma pakek pakaian yang agak terbuka aja, inipun untuk memenuhi kebutuhan hidup, gak lebih dari itu. Kalau kami gak punya uang, terus kami mau makan apa?"
Bangunan logika seperti ini sudah tidak jarang lagi kita dengar, malah sudah jadi biasa, bahkan tidak nampak lagi bahwa ini merupakan sebuah kesalahan saking sudah biasanya. Inilah yang kita namakan dengan LOGIKA SETAN. Mengapa begitu? Jelas, karena logika yang dibangun sampe segitunya hanya untuk dalil pembenaran terhadap sesuatu yang salah dan jelas dilarang oleh Allah SWT dan rasulnya.
Mengapa mindset kita hari ini tidak kita putar dan balik, misalnya "kita harus menutup aurat, apalagi kita sebagai wanita yang sangat dimuliakan didalam agama. Aurat kita ini hanya untuk suami bukan untuk dikonsumsi secara umum. Tidakkah kita lihat sesuatu yang tertutup lebih berharga dari pada sesuatu yang terbuka? Orang yang memiliki perhiasan yang begitu mahal harganya, tentu dia akan menjaga dan merawatnya dengan baik, dan tidak dijadikan sebagai konsumsi umum. Kenapa? Jawabannya jelas, karena dia itu sesuatu yang begitu mulia dan berharga.
Dan soal rezeki itu sudah Allah SWT yang atur. Dan tidakkah kita mendengar janji Allah SWT dalam Al Qur'an bahwa "tidak ada satupun yang melata diatas permukaan bumi, kecuali Allah lah yang menanggung rezeki kepadanya"?. Terus ngapain kita melakukan "sesuatu" untuk mendapatkan rezeki, padahal "sesuatu" itu sangat jelas dilarang oleh yang memberi rezeki itu sendiri?
Nah, Logika yang seperti inilah yang kita namakan sebagai LOGIKA TUHAN. Mengapa? Karena memang logika tersebut dibangun sebagai dalil atau argumen untuk membenarkan suatu kebenaran yang diperintahkan oleh Allah SWT dan rasulnya SAW.
Kita sebagai manusia -yang mempunyai akal- tentu tidak bisa atau dengan bahasa yang lebih tepatnya "tidak nyaman" untuk melakukan sesuatu yang diawali oleh unsur paksaan. Memang tidak nyaman. Baik itu perkara yang bernuansa kemaksiatan, apalagi yang beraroma ketaatan. Sungguh tidak nyaman. Tapi disana harus ada bangunan logika yang tepat guna untuk merangsang dan memotivasi diri untuk nyaman hingga sanggup melakukan suatu perintah atau meninggalkan suatu larangan.
Rasulullah Saw ketika berdakwah juga memakai metode seperti ini, beliau selalu memberi jawaban yang logis terhadap suatu pertanyaan hingga si penanya itu merasa nyaman dengan syariat yang beliau bawa. Sebagai contoh ketika seorang sahabat yang bernama julaibib meminta izin kepada Rasulullah Saw untuk berzina. "Ya rasulallah izinkan aku untuk berzina"?
Ketika Rasulullah Saw mendengar pertanyaan tersebut, apakah beliau marah? Apakah beliau mencaci maki? Atau bahkan langsung beliau menghukumi si penanya tersebut? Tidak, sama sekali tidak. Tapi beliau mencoba untuk menyuguhkan setumpuk argumen-argumen yang kira-kira dapat membuat si penanya itu nyaman dan merasa bahwa zina itu memang tidak baik dan sangat keji, sehingga saat itu Rasulullah Saw kembali bertanya- secara singkatnya- , "wahai anak muda apakah engkau rela apabila itu terjadi pada ibumu, putrimu atau bibimu?
Pemuda tersebut menjawab " Tidak, demi Allah aku tidak sama sekali rela dengan hal itu. Maka disaat itu Rasulullah Saw pun menyahut, begitu pula wahai anak muda, tidak seorangpun yang rela bahwa ibunya, putrinya dan bibinya untuk dinodai. Sehingga pada akhirnya pemuda tersebut sadar dan pada akhirnya Rasullullah Saw pun berdoa padanya agar diampuni dosanya, disucikan hatinya dan di jaga kemaluannya.
Apa yang dapat kita ambil pelajaran dari ini? Iya, Rasulullah Saw selalu mendahulukan logika diatas emosi ketika beliau berdakwah, karena memang seseorang tidak nyaman dalam melakukan atau meninggalkan sesuatu tanpa ada bangunan logika yang jelas untuk itu.
Maka dari itu, mulai sekarang kita harus mampu untuk membangun logika-logika yang benar didalam perkara amar ma'ruf nahi mungkar, baik untuk kita sendiri juga untuk orang lain. Kalau mereka-mereka selalu mencoba untuk membangun logika sebagai upaya untuk membenarkan suatu yang salah, lantas kenapa kita tidak bisa untuk membangun logika-logika guna untuk membenarkan yang benar?
Kalau syeitan dan iblis mampu Istiqomah dalam mengajak kita ke neraka, lantas kenapa kita tidak bisa untuk istiqamah dalam mengajak diri kita sendiri dan juga orang lain ke surga?
Jawabannya jelas. Dalam hal ini kita butuh untuk membangun logika-logika yang benar untuk membenarkan suatu kebenaran yang saya istilahkan dengan LOGIKA TUHAN. Dan harus mampu untuk menolak dan membantah Logika-logika yang disuguhkan untuk membenarkan suatu kesalahan yang saya istilahkan dengan LOGIKA SETAN.
Salam.
Saya publikasikan ya?? Maa syaa Allaah
ReplyDeleteTafaddhal masykuran
ReplyDelete