Sebagai makhluk yang bersifat baharu tentu kita hidup dengan mengalami sekian banyak perubahan. Mulai dari tidak ada menjadi ada, dari kecil menjadi remaja, dari remaja menjadi dewasa, dari dewasa hingga pada akhirnya mati pun tiba.
Perubahan yang terjadi bukan hanya dari segi keberadaan. Tapi juga status sosial, ekonomi, intelektual, penampilan, asmara, dan lain sebagainya. Orang yang anda lihat sekarang miskin belum tentu dia miskin untuk selamanya. Orang yang anda lihat sekarang kaya berpotensi untuk miskin pada saatnya tiba.
Orang yang anda anggap sekarang hina bisa jadi dia lebih mulia dari anda suatu hari. Orang yang mulia hari ini tidak tertutup kemungkinan hina sehina-hinanya suatu saat. Orang yang anda anggap bodoh hari ini bisa jadi lebih pintar dari anda suatu saat. Orang yang pintar hari ini bisa jadi goblok pada saatnya.
Wanita yang hari ini cantik pasti pada saatnya kecantikan tersebut akan pudar dan sirna. Wanita yang anda anggap biasa aja bisa jadi dia lebih cantik dari yang anda kira. Orang yang anda benci, bisa jadi akhirnya anda cintai. Orang yang sekarang anda cintai, berpeluang akhirnya anda benci.
Begitu juga orang yang sekarang jomblo bisa jadi akhirnya berumah tangga. Orang yang sedang berumah tangga bisa jadi jomblo secara tiba-tiba. Orang yang sedang bahagia bisa jadi tiba-tiba mengalir air mata. Orang yang sedang sedih bisa jadi tiba-tiba bahagia, dan lain sebagainya. Intinya hidup ini selalu memiliki perubahan. Sekali lagi, selalu memiliki perubahan. Dalam artian semua ada saatnya dan semua ada waktunya. Inilah yang saya istilahkan dengan "dang-dang".
Sebenarnya semua itu dang-dang. Hudep dang-dang mate. Mate dang-dang hudep lom. Mana yang hebat? Jomblo dang-dang meukawen. Yang kaleuh meukawen dang-dang meucre. Siapa yang hebat? Orang yang sudah berumah tangga berpeluang berpisah -hal yang sangat dikhawatirkan oleh pasangan suami istri- Sedangkan kekhawatiran itu tidak ada sedikitpun bagi anda yang masih jomblo. Siapa yang hebat? Ha ha ha..... Maka, kalau ditujukan pertanyaan kapan menikah, maka, jawaban paling tepat adalah "dang-dang".
Intinya filosofi ungkapan "dang-dang" mengajak kita untuk melihat sesuatu bukan hanya dari aspek bil fi'linya (aktual) tetapi juga dari aspek bil quwwahnya (potensial). Melihat dari aspek aktualnya saja anda akan lupa diri, melihat dari aspek potensial saja anda menjadi orang yang suka berspekulasi. Artinya mengimplementasikan sikap moderat dalam hal ini menjadi suatu keharusan.
Bersikap moderat dalam menilai suatu fenomena yang terjadi mendidik anda menjadi manusia yang tegar, kuat, dan tabah dalam menghadapi setiap tantangan dan rintangan dalam kehidupan. Keadaan yang membuat anda berada dalam mode bahagia perlu disyukuri. Keadaan yang membuat diri Anda berada dalam mode kesedihan juga perlu dinikmati.
Toh semuanya tidak lepas dari qadha dan qadarnya Allah. Mengeluh pada salah satu keadaan (bahagia atau luka) sama dengan telah menolak takdir Allah SWT secara tidak langsung. Orang yang tidak mau bersyukur dan dan sabar sampai kiamatpun tidak akan pernah mendapatkan kebahagiaan.
Kalau sekarang anda miskin, maka jadikanlah kemiskinan itu sebagai langkah awal menuju kekayaan. Kalau sekarang anda bodoh, jadilah kebodohan itu langkah awal untuk menuju kepintaran. Kalau sekarang anda luka, jadikanlah luka itu sebagai langkah awal menuju kebahagian. Happy endinglah . Begitu pula kalau anda sekarang jomblo, jadikanlah kejombloan itu langkah awal untuk berumah tangga.
Jadi, apapun kelebihan yang anda impi-impikan tetap dan mesti melalui kekurangan yang anda miliki. Intinya kekurangan itu mesti ada. Kalau kekurangan tidak anda miliki bagaimana langkah untuk meraih kelebihan itu sendiri. Kelebihan aja didefinisikan dengan kekurangan yang yang sudah hilang. Makanya, orang yang memiliki beragam kekurangan dengan orang yang memiliki sejumlah kelebihan sebenarnya berada pada posisi yang sama. Sama-sama berangkat dari kekurangan.
Cuma, orang yang dianugerahkan kelebihan oleh Allah SWT telah tiba, sedangkan orang yang memiliki sejumlah kekurangan sedang berada dalam tahap proses. Cuma butuh waktu, itu saja sebenarnya. Sekali lagi, butuh waktu. Titek. Maka apa yang mesti anda cemaskan?
Apa yang anda inginkan sekarang, insya Allah semua akan Allah berikan. Cuma saja butuh waktu. Sekali lagi, butuh waktu. Apa yang mesti anda cemaskan? Cuma butuh waktu saja. Anda sekarang cuma perlu fokus dan sabar pada proses, insya Allah sukses Allah SWT berikan.
Kesimpulannya dalam melihat suatu peristiwa dan fenomena yang terjadi, baik terhadap diri pribadi ataupun orang lain mesti anda lihat dua aspek itu. Yang pertama aktual dan yang kedua potensial. Kalau anda mengimplementasikan dua aspek tersebut dalam menilai sesuatu, maka semua fenomena yang terjadi di dunia fana ini akan anda berikan dengan nilai yang sama. Tidak anda beda-bedakan.
Dengan sikap model beginilah anda akan merasa selalu bahagia walaupun anda sedang berada dalam mode luka. Dan dengan sikap ini pula anda akan menjadi jiwa yang optimis, yaitu jiwa yang berada baina minder wa sombong. Panasnya dengki juga bisa dihilangkan dengan sikap semacam ini. Jadi, sangat banyak kelebihan yang lain bisa anda dapatkan dengan mengimplementasikan sikap filosofis "dang-dang" dalam mengarungi kehidupan.
Sebagai closing, jangan pernah menyamakan kehidupan anda dengan kehidupan orang lain, karena setiap orang memiliki kisah hidup yang berbeda. Menyamakan kehidupan anda dengan kehidupan orang lain sama dengan bunuh diri.
Selamat menikmati. Wallahu a'lam bish shawab.
Comments
Post a Comment