Skip to main content

Memahami konsep dalalah muthabaqah, tadhammun, dan iltizam.


Apa yang anda pahami ketika mendengar kata "Corona"? Ya, tentu yang anda pahami ialah nama bagi satu virus yang mematikan yang berasal dari Wuhan China yang dalam beberapa bulan ini menjadi trending topik hampir di seluruh media sosial dan juga mainstream.

Apa yang anda pahami ketika mendengar kata "Wanda"? Ya, anda yang mengenalnya, tentu anda akan bilang bahwa dia seorang wanita yang berasal dari kampung seberang, yang baru tamat sekolah, yang memiliki wajah lumayan cantik, ala kadar lah pokoknya. Dan masih banyak lagi ciri-ciri yang dia miliki yang membedakannya dengan orang-orang yang lain.

Boleh saja anda memahami wanita atau lelaki yang lain yang namanya juga "Wanda" yang tidak sama seperti yang mendarat di kepala saya. Karena, yang menjadi poinnya disini ialah ketika mendengar kata tersebut, ada sesuatu yang anda pahami disana. Yaitu, seseorang yang bernama Wanda yang anda kenal itu.

Nah, di dalam disiplin ilmu mantiq (logika) pemahaman anda tersebut diistilahkan dengan dalalah ( signifikasi) berangkat dari definisinya yang kedua, sebagaimana penulis jelaskan pada tulisan yang lalu. Tepatnya, dalalah lafdzhiyah wadh'iyyah (signifikasi verbal kontekstual). Di katakan dalalah karena memang disana ada "pemahaman".

Dan dikatakan lafdzhiyyah karena yang menjadi dallnya (petunjuk) ialah "suara", sekali lagi, "suara" yang anda dengar. Bukan berupa isyarah, rambu-rambu, tulisan, dan lain-lain yang keseluruhannya masuk ke dalam dalalah ghairu lafdzhiyah. Dan dinamakan wadh'iyyah (konstektual), karena memang penunjukan lafadz tersebut terhadap maknanya berdasarkan peletakan suatu lafadz terhadap suatu makna, sekali lagi, peletakan satu lafadz kepada suatu makna. Bukan secara thabi'iyyah (natural) dan juga aqliyyah (rasional). Hal ini sedikit kurangnya juga telah penulis uraikan pada tulisan yang lalu.

Dalalah inilah yakni dalalah lafdzhiyah wadh'iyyah yang akhirnya terbagi lagi menjadi tiga, yang pertama dalalah muthabaqah, dan yang kedua dalalah tadhammun, dan yang ketiga ialah dalalah iltizam. Apa yang dimaksud dengan dalalah muthabaqah, tadhammun, dan juga iltizam? Untuk itu, mari kita perhatikan uraian berikut ini secara baik dan seksama!

Seringkali di dalam kehidupan sehari-hari kita menemukan kata-kata yang mana disaat kita mendengar kata tersebut yang kita pahami ialah makna utuh dari kata itu, seperti disaat kita mendengar kata "rumah" misalnya. Seseorang berkata kepada anda; tahun ini, insya Allah saya ingin sekali membangun "rumah" guna untuk membahagiakan sang buah hati tercinta.

Nah, yang menjadi pertanyaannya sekarang ialah, yang kita pahami dari kata "rumah" dari kalimat diatas apakah seluruh "rumah", yang tersusun mulai dari pondasi, kuda-kuda, atap, balok dan lain-lain yang ditunjuki oleh kata "rumah" tersebut, atau sebagiannya saja?

Jawabannya jelas, yang anda pahami tentu ialah seluruh makna utuh yang ditunjuki oleh kata "rumah" tersebut. Alasannya jelas, karena memang ketika orang ingin membangun rumah yang dia bangun bukan hanya pondasi, atau kuda-kudanya saja, tetapi, seluruh bagiannya yang akhirnya kepada seluruh bagian tersebutlah  dinamakan kata "rumah".

Berbeda halnya ketika mendengar susunan kalimat berikut ini; rencananya aku ingin memperbaiki mobil nih! Maklum, soalnya aku gak sabar mau bertemu sama si dia yang udah lama gak bertemu, rasa rindu yang membara seolah-olah membunuhku. Perhatikan kata "mobil" pada kalimat diatas! Sudah? Oke. Jadi, yang menjadi pertanyaannya sekarang ialah pemahaman anda terhadap kata "mobil" pada kalimat diatas, apakah seluruh dari bagian "mobil" yang tersusun mulai dari mesin, roda, stir, dan lain-lain yang ditunjuki oleh kata mobil atau sebagiannya saja?

Tentu, jawaban kita sama. Yang kita pahami ialah sebagian dari makna yang ditunjuki oleh kata mobil itu, bukan seluruhnya seperti contoh yang pertama. Kenapa? Alasannya logis. Karena memang pada kebiasaanya, orang yang ingin memperbaiki mobil, yang dia perbaiki cuma sebagiannya saja, adakalanya mesin, atau rem atau ban  atau bagian-bagian yang lain. Yang intinya, pemahaman kita bukan kepada makna utuh. Tetapi, kepada sebagian makna yang ditunjuki oleh kata "mobil" itu.

Dan juga tidak jarang ketika mendengar kata
"pernikahan" namun, yang kita pahami dari kata tersebut ialah adanya Castri (calon istri) dan adanya cami (calon suami). Yang mana keduanya bukan kepada makna utuh atau sebagian makna dari pernikahan, tetapi, makna yang keluar dari esensi pernikahan itu sendiri, yang dalam hal ini ialah calon istri dan calon suami.

Dari uraian diatas, ada tiga contoh yang masing-masing sedikit banyaknya mengurai tentang tiga dalalah yang menjadi objek kajian dari ilmu mantiq, yang pertama untuk dalalah muthabaqah, yang kedua untuk dalalah tadhammun, dan yang ketiga, untuk dalalah iltizam.

Yang jelasnya, yang dimaksud dalalah muthabaqah ialah pemahaman dari suatu lafadz kepada makna utuh dari lafadz tersebut. Misalnya kata "manusia" memiliki makna hewan yang berpikir. Nah, pemahaman kita disaat mendengar kata "manusia" kepada hewan yang berpikir dinamakan dengan dalalah muthabaqah, kenapa? Karena, pemahaman kita disaat itu ialah terhadap makna utuh dari lafadz itu sendiri, bukan sebagian makna, juga bukan makna yang keluar dari esensi ( mahiyyah) dari lafadz itu.

Yang kedua, dalalah tadhammun ialah pemahaman terhadap suatu lafadz kepada sebagian maknanya saja, contoh yang sering diulang-ulang ialah pemahaman kita terhadap kata "manusia" kepada hewan saja, atau kepada berpikir saja, pokoknya, selama pengetahuan kita kepada sebagian makna, bukan kepada makna utuh, dan bukan kepada yang keluar dari esensi, maka disaat itu dalalah tersebut dinamakan dengan tadhammun.

Ada satu poin penting yang perlu anda garis bawahi yang berkaitan dengan dalalah tadhammun ini. Jadi, dalalah tadhammun ialah pemahaman kita kepada sebagian makna dari suatu lafadz. Hal ini berlaku secara umum. Baik, memang kepada sebagian makna seperti, pemahaman hewan saja atau berpikir saja dari kata "manusia" atau kepada sebagian afrad (individu) dari kata "manusia" itu. Seperti ketika anda mendengar kata manusia, tapi yang anda pahami ialah bukan seluruh manusia yang ada di bumi ini, tetapi kepada sebagiannya saja, itu juga tergolong kedalam dalalah tadhammun.

Untuk yang lebih mudah perhatikan pada ayat إن الإنسان لفي خسر yang artinya "bahwa sungguh manusia berada dalam kerugian". Nah, yang menjadi pertanyaannya sekarang ialah kata "manusia" pada ayat tersebut apakah seluruh manusia atau sebagiannya saja? Tentu, kita akan menjawab sebagiannya saja, bukan seluruh manusia yang ada di bumi. Karena kalau kita katakan kepada seluruh manusia, tentu hal tersebut berkonsekuensi para Rasul, Ambiya, Ulama, juga berada di dalam kerugian. Tetapi, faktanya bukan demikian.

Dan kemungkinan yang ketiga, adakala pemahaman kita kepada sebagian dari penyusun dari afrad (individu) manusia itu sendiri, misalnya ketika anda mendengar kalimat  " aku ingin menjenguk Ayu yang lagi sakit". Nah, kata Ayu pada kalimat tersebut yang disandarkan kepadanya kata sakit. Yang anda pahami, apakah seluruh dari bagian penyusun ayu yang sakit atau cuma sebagiannya saja?

Tentu, kita semua akan menjawab cuma sebagiannya saja, karena memang secara fakta di lapangan yang sakit cuma sebagian dari tubuh ayu tersebut. Bukan seluruh dari badannya yang sakit. Mungkin, sampai disini, timbul satu pertanyaan di benak anda. Kan, mungkin saja seluruh tubuhnya yang merasa sakit. Ya, memang boleh saja anda memberikan pertanyaan seperti itu. Namun, yang menjadi poin kita disini ialah seandainya pemahaman kita itu cuma kepada sebagian dari tubuh ayu bukan keseluruhan, maka, disaat itulah pemahaman kita dinamakan dengan dalalah tadhammun. Sedangkan apabila bukan demikian, maka, disaat itu, ya jelas, pemahaman kita tidak lagi dinamakan dengan dalalah tadhammun.

Jadi, kesimpulannya, dalalah tadhammun berada pada tiga kemungkinan, yang pertama kepada sebagian makna, yang kedua kepada sebagian individu, dan yang ketiga kepada sebagian penyusunnya. Inilah yang perlu untuk kita catat sebaik-baiknya.

Dan dalalah terakhir yang menjadi objek kajian dari ilmu mantiq ialah dalalah iltizam. Dan dalalah inilah yang paling panjang pembahasannya dari dua dalalah diatas. Maka untuk itu, penjelasannya yang lebih rinci akan penulis uraikan pada tulisan mendatang insyaallah. Wallahu a'lam bishawab.

  

  

    

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Mode bertahan

Tidak semua wajah yang cerah adalah tanda hati yang tenang. Kadang di balik senyum yang tampak kuat dan stabil ada luka yang sengaja ditutupi agar tidak terlihat. Manusia modern hidup dengan beban yang berbeda: tekanan sosial, perbandingan yang terus-menerus, tuntutan hasil yang instan dan arus informasi yang tak pernah berhenti. Semua itu membuat seseorang lupa arah, kehilangan fokus, dan bingung dengan apa yang sebenarnya sedang ia jalani. Kita merasa kalah dalam perjalanan, kecewa dengan hasil yang terlambat datang, merasa tertinggal dari orang lain, kehabisan semangat dan kesulitan menjaga konsistensi. Ini sudah menjadi penyakit umum yang menyebar diam-diam tanpa gejala fisik, tapi menghancurkan ketenangan batin. Selama tidak ada kesadaran atau cara mengobatinya, hati tetap akan terpenjara meski tubuh bebas bergerak ke mana saja. Jika ingin menilai keadaan hati kita saat ini, tidak perlu melihat hal yang besar,  cukup perhatikan bagaimana kita bereaksi ketika masalah datang. Ap...

Tarim antara fanatik dan ilmu

  Niat baik bisa saja berakibat fatal apabila berlandaskan kepada fanatik bukan kepada ilmu. Menisbatkan suatu perkataan kepada Rasulullah saw dengan tujuan agar orang lain menjadi "baik" padahal Rasulullah saw tidak pernah berkata demikian, maka fal yatabawwak maqa'dahu min an-nar yakni telah disediakan tempatnya di neraka.  Sebelum saya berangkat ke Tarim, ada oknum penceramah yang mengatakan bahwa kalau wanita di Tarim itu seumur hidup cuma tiga kali saja keluar rumah, yang pertama ketika masih kecil keluar bersama orang tuanya, kedua ketika menikah keluar dari rumah orang tua ke rumah suaminya, ketiga saat mereka meninggal di bawa ke kuburannya.  Tetapi pas saya berada di Tarim, faktanya sungguh berbalik. Saya melihat dengan kepala saya sendiri bahwa ada kok wanita Tarim yang keluar rumah seperti pergi ke sekolah, ziarah, belanja dan lain-lain. Terus yang katanya cuma tiga kali keluar rumah itu dimana? Jawabannya itu hanyalah fiktif belaka bukan sebuah fakta.  Na...