Skip to main content

Ibnu Qasim al-Ghazi (Pena yang menjadi lentera)

 



Di antara deru angin Gaza yang membawa debu sejarah, lahirlah seorang anak yang kelak akan menjadi lentera bagi para penuntut ilmu. Namanya adalah Syihabuddin Ahmad bin Qasim bin Ahmad bin Abdul Karim al-Ghazi asy-Syafi‘i, atau yang lebih akrab disapa Ibnu Qasim al-Ghazi. Ia lahir pada tahun 859 Hijriyah (sekitar 1455 Masehi), di bumi Palestina yang gersang namun subur bagi kelahiran para ulama.

Ibnu Qasim tumbuh di lingkungan keluarga yang sarat dengan nuansa ilmu dan adab. Ayahnya, seorang alim yang mendidik anaknya dengan penuh kelembutan, dan ibunya, perempuan yang menghidupkan malam dengan dzikir panjang, menanamkan nilai-nilai keikhlasan dan kesungguhan sejak dini. Dari kecil, Ibnu Qasim sudah hafal berbagai matan penting, seperti Taqrib Abu Syuja’, Alfiyyah Ibnu Malik, serta kitab-kitab dasar ilmu alat (nahwu, sharaf, balaghah).

Seperti burung yang tak kenal batas, Ibnu Qasim terbang jauh ke Kairo, Mesir. Di sana, Universitas Al-Azhar menjadi samudra ilmunya. Di majelis-majelis yang ramai oleh para penuntut ilmu dari berbagai penjuru dunia, Ibnu Qasim duduk di barisan terdepan. Tak peduli dingin fajar atau panas tengah hari, ia datang lebih awal untuk menyimak mutiara kata para guru. Karena kegigihannya, ia dijuluki "burung Al-Azhar", yang selalu singgah dari satu halaqah ke halaqah lainnya.

Di Mesir, Ibnu Qasim berguru kepada para ulama besar. Di antaranya, Syaikh Zakariya al-Ansari, yang dijuluki Syaikhul Islam dan menjadi benteng mazhab Syafi‘i; Syaikh al-Isnawi, ahli ushul fikih; dan Syaikh al-Bulqini, seorang mujtahid yang disegani. Dari mereka, Ibnu Qasim belajar bukan hanya teks, tetapi juga adab yang melembutkan hati.

Kehausan Ibnu Qasim pada ilmu tak pernah surut. Di malam-malam sunyi, ketika Kairo terlelap, lampu di ruang kecilnya tetap menyala. Lembaran kitab berserak di sekelilingnya, seakan menjadi saksi bisu atas perjalanan batinnya. Pernah suatu malam, ia tertidur di atas kitab. Ketika terbangun, ia langsung beristighfar, merasa malu telah "mengkhianati" sahabat sejatinya: ilmu. Segera ia berwudhu, melanjutkan bacaan hingga fajar menjemput.

Puncak pengabdian Ibnu Qasim pada ilmu terwujud dalam karyanya yang monumental: Fathul Qarib al-Mujib fi Syarh Alfaz at-Taqrib. Kitab ini adalah syarah (penjelasan) atas Taqrib karya Abu Syuja’, kitab fikih ringkas yang menjadi tulang punggung pendidikan dasar madzhab Syafi‘i. Dalam Fathul Qarib, Ibnu Qasim menulis dengan hati yang penuh kerendahan. Ia tak sekadar memaparkan hukum, tetapi menuntun pembaca untuk memahami dengan rasa, bukan hanya logika.

Konon, sebelum menulis Fathul Qarib, Ibnu Qasim bermimpi bertemu dengan gurunya. Dalam mimpi itu, sang guru berkata:

"Taqrib itu laksana pohon. Kini, engkau harus menumbuhkan daunnya, agar kelak tumbuh buah yang memuliakan umat."

Setelah mimpi itu, ia pun mulai menulis. Tangannya menari di atas kertas, air matanya menetes mengiringi setiap kalimat. Hasilnya bukan sekadar kitab, tetapi warisan ruhani yang menembus zaman.

Selain Fathul Qarib, beliau juga menulis Hasyiyah ‘ala Tuhfah al-Muhtaj dan Syarh Manhaj at-Tullab. Namun, Fathul Qarib menjadi mahkota keilmuannya. Kitab ini hingga kini menjadi teman setia para santri di pondok-pondok pesantren Nusantara. Dari Aceh hingga Lombok, dari Pesantren Lirboyo hingga Gontor, kitab ini dikaji, dihafal, dan dihayati.

Meski sudah mencapai derajat keilmuan yang tinggi, Ibnu Qasim tak pernah meninggalkan tawaduk. Beliau masih sering menghadiri majelis guru-guru yang lebih muda darinya. Ketika ditanya kenapa beliau tidak malu duduk di majelis itu, beliau menjawab, "Aku hanyalah pengembara yang kehausan. Siapa saja yang memiliki setetes air, akan kujamah dengan penuh syukur."

Ibnu Qasim al-Ghazi wafat pada tahun 918 H (1512 M), meninggalkan dunia yang ia cintai dengan diam, sebagaimana diamnya tinta yang kering setelah menulis kalimat terakhir. Namun, ia tidak benar-benar pergi. Setiap kali Fathul Qarib dibaca, seakan terdengar bisikan lembut sang guru: "Belajar bukan sekadar untuk mengerti, tetapi untuk mengenal Tuhanmu."



Quotes Ibnu Qasim al-Ghazi

"Ilmu adalah rahmat yang hanya dapat digapai dengan adab dan rasa hina di hadapan-Nya."


Puisi untuk Ibnu Qasim al-Ghazi

Malam di Gaza menulis sunyi

Selembar kitab jadi saksi

Air mata tak terlihat

Namun menjadi tinta yang abadi



Sumber dan Referensi asli:

1. Al-Ghazi, Ahmad bin Qasim. Fathul Qarib al-Mujib fi Syarh Alfaz at-Taqrib. Beirut: Dar al-Fikr, berbagai cetakan.

2. Al-Baijuri, Ibrahim. Hasyiyah al-Baijuri ‘ala Fathul Qarib. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

3. As-Subki, Tāj al-Dīn. Ṭabaqāt al-Shāfiʻiyyah al-Kubrā. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

4. Al-Syathiri, Muhammad bin Ahmad. Syarh al-Yaqut an-Nafis. Dar al-Minhaj, 2004.

5. Wawancara lisan para masyayikh Al-Azhar dan riwayat pesantren Nusantara dalam pengajian kitab Fathul Qarib.


Comments

Popular posts from this blog

Ayah Sop dan kita.

"Lakukan semua yang bisa dilakukan walaupun semuanya belum bisa dilakukan". Inilah salah satu kata Ayah Sop yang begitu terpatri dalam hati saya. Kata ini pertama kali saya dengar dari seorang ulama muda Aceh, Aba Helmi Nisam di acara PKU (pelatihan kader ulama) Aceh Utara yang diselenggarakan di hotel lido graha Lhokseumawe sekitaran tahun 2020 yang lalu, ketika itu saya menanyakan tentang langkah penegakan syariat Islam di Aceh secara kaffah. Beliau dengan nada tegas menjawab "Lakukan semua yang bisa dilakukan walaupun semuanya belum bisa dilakukan", begitu kata Ayah Sop; pungkas Aba Helmi.  Dan yang kedua, kata ini saya dengar ketika Ayah Sop mengisi acara seminar politik di Ma'had aly Raudhatul Ma'arif al-Aziziyyah, desa Cot trueng, muara batu, Aceh utara, ketika saya menanyakan tentang cita-cita menuju Khilafah islamiah. Ayah Sop pun menjawab dengan kata yang sama, yaitu "Lakukan semua yang bisa dilakukan walaupun semuanya belum bisa dilakukan...

Memahami konsep dalalah muthabaqah, tadhammun, dan iltizam.

Apa yang anda pahami ketika mendengar kata "Corona"? Ya, tentu yang anda pahami ialah nama bagi satu virus yang mematikan yang berasal dari Wuhan China yang dalam beberapa bulan ini menjadi trending topik hampir di seluruh media sosial dan juga mainstream. Apa yang anda pahami ketika mendengar kata "Wanda"? Ya, anda yang mengenalnya, tentu anda akan bilang bahwa dia seorang wanita yang berasal dari kampung seberang, yang baru tamat sekolah, yang memiliki wajah lumayan cantik, ala kadar lah pokoknya. Dan masih banyak lagi ciri-ciri yang dia miliki yang membedakannya dengan orang-orang yang lain. Boleh saja anda memahami wanita atau lelaki yang lain yang namanya juga "Wanda" yang tidak sama seperti yang mendarat di kepala saya. Karena, yang menjadi poinnya disini ialah ketika mendengar kata tersebut, ada sesuatu yang anda pahami disana. Yaitu, seseorang yang bernama Wanda yang anda kenal itu. Nah, di dalam disiplin ilmu mantiq (logika) pemahaman a...

Mufrad dan klasifikasinya

  Setelah kita memahami pengertian dari lafadz, klasifikasinya dan perbedaan antara lafadz musta'mal dan muhmal . Selanjutnya disini penulis ingin membahas pengertian dari lafadz mufrad dan klasifikasinya sebagai lanjutan dari tema sebelumnya.  Nah, apa itu lafadz mufrad?  Yang pertama yang harus diketahui ialah lafadz mufrad yang dimaksud didalam ilmu mantik tentu berbeda dengan apa yang dimaksud didalam ilmu nahwu yang lawannya ialah jamak atau mudhaf dan serupa mudhaf atau jumlah dan syibhul jumlah . Tetapi mufrad yang ada didalam ilmu mantik itu merupakan lawan dari pada   murakkab .  Untuk pengertiannya lafadz mufrad ialah suatu lafadz yang bagiannya tidak menunjuki kepada sebagian dari pada makna "yang di maksud".   Berdasarkan definisi ini lafadz  mufrad terbagi kepada empat: 1. Tidak ada bagian sama sekali seperti “u” dalam bahasa aceh yang artinya kelapa. 2. Ada bagian tapi bagiannya tidak menunjuki kepada makna seperti k...