Ada hari-hari ketika kita terbangun dan mendapati dunia seperti papan catur yang tak pernah selesai. Langkah mana yang harus kita pilih? Bidak mana yang harus kita gerakkan? Semua terasa kabur, samar, seakan dilingkupi kabut tipis yang tak kunjung sirna.
Kita diajari sejak kecil untuk berlari cepat, mengejar sesuatu yang tak kita pahami sepenuhnya: gelar, jabatan, harta, atau sekadar pujian orang lain. Lalu, pada suatu titik, kita berhenti di simpang jalan, terengah-engah, dan menyadari: "Aku mau ke mana sebenarnya?"
Ada yang ingin menjadi hebat di mata dunia, tapi tak pernah bertanya apa yang membuat jiwanya damai. Ada yang mengejar mimpi orang lain, sambil membiarkan mimpinya sendiri layu. Ada yang berlari tanpa tahu ujungnya, sekadar takut dikatai "gagal" oleh orang-orang yang juga tak tahu ke mana harus pergi.
Bingung dalam menentukan arah kehidupan adalah sepi yang tak bisa dihibur oleh lagu, tak bisa diredakan oleh tawa, tak bisa dihapus oleh sekedar tidur panjang. Ia datang seperti gelombang, menghantam, mundur, lalu datang lagi lebih tinggi.
Pernah suatu malam kita duduk di bawah langit yang seolah retak, sambil bertanya pada bintang-bintang: "Jika hidup ini perjalanan, di mana peta yang harus kuikuti?" Tapi bintang hanya berkelip, diam, seolah berkata: "Peta itu tak pernah ada. Kau sendiri yang harus menggambarnya."
Begitulah, kita sering terjebak di antara banyak pilihan, di antara suara-suara yang terlalu banyak menghakimi. Mau jadi apa? Mau ke mana? Bagaimana kalau gagal? Suara-suara itu menggema di dinding batin, memantul tanpa henti.
Kadang kita iri pada angin. Ia bebas pergi ke mana saja, tanpa harus menjelaskan alasan. Kadang kita iri pada burung. Mereka terbang, memilih langit mana yang ingin dituju, tanpa perlu peta, tanpa perlu restu siapa-siapa.
Namun manusia selalu ingin pasti. Ingin kepastian bahwa langkahnya benar, ingin jaminan bahwa ujung jalan akan membahagiakan. Padahal, siapa yang bisa menjamin? Bukankah setiap arah akan selalu punya resiko luka, gagal, kecewa?
Mungkin, bingung dalam menentukan arah bukanlah kelemahan. Mungkin itu tanda bahwa kita masih berani mencari, masih punya hasrat untuk menemukan, masih berusaha mendengar bisik terdalam jiwa yang sering kita bungkam.
Maka, jika hari ini kau merasa bingung, duduklah sebentar. Dengarkan sunyi. Rasakan detak jantungmu yang berusaha berkata sesuatu. Mungkin, jawabannya tidak muncul hari ini. Mungkin ia akan datang esok, atau lusa, atau saat kau sudah hampir putus asa.
Tapi percayalah, kebingungan bukan akhir dari segalanya. Ia hanyalah lorong gelap yang harus dilewati sebelum menemukan ruang terang yang menunjuki.
Karena hidup bukan soal cepat sampai, tapi bagaimana kita merayakan setiap langkah, meski sering salah arah.
Comments
Post a Comment