Skip to main content

Bingung

 



Ada hari-hari ketika kita terbangun dan mendapati dunia seperti papan catur yang tak pernah selesai. Langkah mana yang harus kita pilih? Bidak mana yang harus kita gerakkan? Semua terasa kabur, samar, seakan dilingkupi kabut tipis yang tak kunjung sirna.

Kita diajari sejak kecil untuk berlari cepat, mengejar sesuatu yang tak kita pahami sepenuhnya: gelar, jabatan, harta, atau sekadar pujian orang lain. Lalu, pada suatu titik, kita berhenti di simpang jalan, terengah-engah, dan menyadari: "Aku mau ke mana sebenarnya?"

Ada yang ingin menjadi hebat di mata dunia, tapi tak pernah bertanya apa yang membuat jiwanya damai. Ada yang mengejar mimpi orang lain, sambil membiarkan mimpinya sendiri layu. Ada yang berlari tanpa tahu ujungnya, sekadar takut dikatai "gagal" oleh orang-orang yang juga tak tahu ke mana harus pergi.

Bingung dalam menentukan arah kehidupan adalah sepi yang tak bisa dihibur oleh lagu, tak bisa diredakan oleh tawa, tak bisa dihapus oleh sekedar tidur panjang. Ia datang seperti gelombang, menghantam, mundur, lalu datang lagi lebih tinggi.

Pernah suatu malam kita duduk di bawah langit yang seolah retak, sambil bertanya pada bintang-bintang: "Jika hidup ini perjalanan, di mana peta yang harus kuikuti?" Tapi bintang hanya berkelip, diam, seolah berkata: "Peta itu tak pernah ada. Kau sendiri yang harus menggambarnya."

Begitulah, kita sering terjebak di antara banyak pilihan, di antara suara-suara yang terlalu banyak menghakimi. Mau jadi apa? Mau ke mana? Bagaimana kalau gagal? Suara-suara itu menggema di dinding batin, memantul tanpa henti.

Kadang kita iri pada angin. Ia bebas pergi ke mana saja, tanpa harus menjelaskan alasan. Kadang kita iri pada burung. Mereka terbang, memilih langit mana yang ingin dituju, tanpa perlu peta, tanpa perlu restu siapa-siapa.

Namun manusia selalu ingin pasti. Ingin kepastian bahwa langkahnya benar, ingin jaminan bahwa ujung jalan akan membahagiakan. Padahal, siapa yang bisa menjamin? Bukankah setiap arah akan selalu punya resiko luka, gagal, kecewa?

Mungkin, bingung dalam menentukan arah bukanlah kelemahan. Mungkin itu tanda bahwa kita masih berani mencari, masih punya hasrat untuk menemukan, masih berusaha mendengar bisik terdalam jiwa yang sering kita bungkam.

Maka, jika hari ini kau merasa bingung, duduklah sebentar. Dengarkan sunyi. Rasakan detak jantungmu yang berusaha berkata sesuatu. Mungkin, jawabannya tidak muncul hari ini. Mungkin ia akan datang esok, atau lusa, atau saat kau sudah hampir putus asa.

Tapi percayalah, kebingungan bukan akhir dari segalanya. Ia hanyalah lorong gelap yang harus dilewati sebelum menemukan ruang terang yang menunjuki.

Karena hidup bukan soal cepat sampai, tapi bagaimana kita merayakan setiap langkah, meski sering salah arah. 

Comments

Popular posts from this blog

Ayah Sop dan kita.

"Lakukan semua yang bisa dilakukan walaupun semuanya belum bisa dilakukan". Inilah salah satu kata Ayah Sop yang begitu terpatri dalam hati saya. Kata ini pertama kali saya dengar dari seorang ulama muda Aceh, Aba Helmi Nisam di acara PKU (pelatihan kader ulama) Aceh Utara yang diselenggarakan di hotel lido graha Lhokseumawe sekitaran tahun 2020 yang lalu, ketika itu saya menanyakan tentang langkah penegakan syariat Islam di Aceh secara kaffah. Beliau dengan nada tegas menjawab "Lakukan semua yang bisa dilakukan walaupun semuanya belum bisa dilakukan", begitu kata Ayah Sop; pungkas Aba Helmi.  Dan yang kedua, kata ini saya dengar ketika Ayah Sop mengisi acara seminar politik di Ma'had aly Raudhatul Ma'arif al-Aziziyyah, desa Cot trueng, muara batu, Aceh utara, ketika saya menanyakan tentang cita-cita menuju Khilafah islamiah. Ayah Sop pun menjawab dengan kata yang sama, yaitu "Lakukan semua yang bisa dilakukan walaupun semuanya belum bisa dilakukan...

Memahami konsep dalalah muthabaqah, tadhammun, dan iltizam.

Apa yang anda pahami ketika mendengar kata "Corona"? Ya, tentu yang anda pahami ialah nama bagi satu virus yang mematikan yang berasal dari Wuhan China yang dalam beberapa bulan ini menjadi trending topik hampir di seluruh media sosial dan juga mainstream. Apa yang anda pahami ketika mendengar kata "Wanda"? Ya, anda yang mengenalnya, tentu anda akan bilang bahwa dia seorang wanita yang berasal dari kampung seberang, yang baru tamat sekolah, yang memiliki wajah lumayan cantik, ala kadar lah pokoknya. Dan masih banyak lagi ciri-ciri yang dia miliki yang membedakannya dengan orang-orang yang lain. Boleh saja anda memahami wanita atau lelaki yang lain yang namanya juga "Wanda" yang tidak sama seperti yang mendarat di kepala saya. Karena, yang menjadi poinnya disini ialah ketika mendengar kata tersebut, ada sesuatu yang anda pahami disana. Yaitu, seseorang yang bernama Wanda yang anda kenal itu. Nah, di dalam disiplin ilmu mantiq (logika) pemahaman a...

Mufrad dan klasifikasinya

  Setelah kita memahami pengertian dari lafadz, klasifikasinya dan perbedaan antara lafadz musta'mal dan muhmal . Selanjutnya disini penulis ingin membahas pengertian dari lafadz mufrad dan klasifikasinya sebagai lanjutan dari tema sebelumnya.  Nah, apa itu lafadz mufrad?  Yang pertama yang harus diketahui ialah lafadz mufrad yang dimaksud didalam ilmu mantik tentu berbeda dengan apa yang dimaksud didalam ilmu nahwu yang lawannya ialah jamak atau mudhaf dan serupa mudhaf atau jumlah dan syibhul jumlah . Tetapi mufrad yang ada didalam ilmu mantik itu merupakan lawan dari pada   murakkab .  Untuk pengertiannya lafadz mufrad ialah suatu lafadz yang bagiannya tidak menunjuki kepada sebagian dari pada makna "yang di maksud".   Berdasarkan definisi ini lafadz  mufrad terbagi kepada empat: 1. Tidak ada bagian sama sekali seperti “u” dalam bahasa aceh yang artinya kelapa. 2. Ada bagian tapi bagiannya tidak menunjuki kepada makna seperti k...