Pada tulisan yang lalu, kita telah mengetahui tiga prinsip dasar dalam berpikir versi Aristoteles. Ada yang dinamakan dengan mabdaul huwwiyah, mabdaul a'dam at-tanaqudh, dan mabdaul marfu'. Sekarang kita akan memasuki kedalam prinsip yang terakhir dari empat prinsip tersebut yang dinamakan dengan mabdaul i'lliyyah.
Menurut Darson terdapat perbedaan pendapat terhadap prinsip yang terakhir ini, ada yang mengatakan dia itu berasal dari Aristoteles, dan ada yang mengatakan prinsip ini bukan dari Aristoteles. Disini, kita akan mengambil pendapat yang pertama, sebagaimana yang dipilih oleh Ibnu al-Nafis dalam kitabnya Syarah wuraiqat. Oke, apa itu Mabdaul i'lliyyah (prinsip kausalitas)?
Ketika anda memasuki hutan belantara, disana anda melihat adanya sebuah rumah dengan desain yang mewah, ornamen yang bagus, yang sebelumnya tidak pernah anda melihat rumah sebagus itu. Anda sebagai orang yang waras tentu akan bertanya, siapa yang telah membuat rumah itu? Kewarasan anda menuntut adanya sebab dibalik hadirnya bangunan rumah tersebut. Dan akal anda juga tidak bisa mengamini rumah tersebut hadir sekonyong-konyong tanpa ada yang membuatnya.
Begitu pula disaat anda mendengar terjadinya kebakaran, tentu, akal yang sehat juga menuntut adanya sebab dibalik kebakaran itu terjadi. Dan juga tidak jarang kita lihat disaat terjadi pembunuhan, perampokan, pencurian, dan hal-hal yang bersifat kriminal lainnya, tentu dan pasti semuanya ada motif dibelakangnya. Tidak mungkin dalam pandangan akal yang sehat semuanya itu terjadi tanpa ada sebab yang memotivasi seseorang pelaku untuk melancarkan aksinya.
Ilustrasi diatas menegaskan bahwa sesuatu akibat pasti selalu terikat dengan sebab dan tidak mungkin "akibat" berpisah dari "sebab" dalam keadaan apapun, baik di alam imajinasi (zihn), apalagi di alam luar (kharij), karena keduanya bersifat luzum(berkaitan). Sekali lagi, setiap akibat pasti ada sebab dibelakangnya, tidak mungkin dia itu tiba-tiba ada dan datang dengan sekonyong-konyongnya saja.
Inilah prinsip terakhir yang diutarakan oleh Aristoteles yang mesti diaplikasikan dalam setiap proses berpikir. Mampu mempraktekkan prinsip keempat ini dengan baik dan benar dalam berpikir, akan berakhir dengan keberadaan Tuhan. Artinya, dengan meyakini setiap akibat pasti ada sebabnya, maka, otomatis keberadaan Tuhan yang menjadi pengatur alam ini tentu tidak bisa ditolak.
Karena alam yang begitu luas dan indah merupakan suatu "akibat", dan setiap akibat tentu ada "sebab" di belakangnya. Dan yang menjadi sebab tentunya harus yang wujud, qadim, baqa' dan yang memiliki sifat kesempurnaan lainnya. Dan yang memiliki sifat kesempurnaan tentu harus Tuhan bukan yang lain. Dan Tuhan yang sebenar-benarnya - sebagaimana ditunjuki oleh dalil aqly (rasional) dan naqli (transendental) yang tak terbantahkan - itulah Allah SWT.
Sejatinya alam ini merupakan rentetan sebab-akibat yang berakhir pada sebab utama atau yang diistilahkan dengan causa prima yang menjadi sebab dari segala sebab (musabbibul asbab). Itulah Allah SWT. Dan semua argumen yang menunjukkan terhadap keberadaan Tuhan baik, itu argumen kebaruan, kemungkinan, keteraturan, ontologis, teleologis, dan juga pergerakan, - yang telah dijelaskan di dalam ilmu kalam - semuanya berangkat dari prinsip yang keempat ini (hukum kausalitas).
Maka, menerima prinsip yang keempat ini merupakan suatu keniscayaan, mempraktekkannya merupakan sebuah keharusan. Orang yang masih waras dan berakal sehat tidak mampu menolak prinsip yang keempat ini. Ibnu An-Nafis mengatakan bahwa Aristoteles membagikan i'lat menjadi empat:
1, i'lat maddiyah
2, i'lat shuriyyah
3, i'lat fa'ilah.
4, i'lat ghaiyyah.
Untuk memahami keempat i'lat ini dengan mudah Ibnu An-Nafis menyuguhkan ilustrasi sebagai berikut: seorang tukang kayu yang ingin membuat meja dari kayu, tentu materi yang di pakai ialah kayu. Ini dinamakan dengan i'lat maddiyah. Dan sebelum membuat meja, tentu harus ada "bentuk" di dalam kepalanya sebagai desain meja tersebut. Ini dinamakan dengan i'lat shuriyyah. Dia juga membutuhkan kuat materi tersebut(kayu), supaya memungkinkan untuk merubahnya menjadi meja. Inilah yang dinamakan dengan i'lat fa'ilah.
Dan yang terakhir, di dalam membuat meja, tukang kayu tersebut tentu memiliki motif ataupun tujuan meja itu dibuat. Inilah yang dinamakan dengan i'lat ghaiyyah. Jadi, ringkasnya, seseorang yang membuat sesuatu, tentu pertama sekali membutuhkan kepada bahan ataupun materi. Dan yang kedua membutuhkan kepada bentuk yang akan dibuat. Dan yang ketiga membutuhkan kepada kuatnya bahan ataupun materi. Dan yang terakhir, tentu pembuatan sesuatu mempunyai motif di belakangnya.
Jadi, yang pertama dinamakan i'lat maddiyah. Yang kedua dinamakan i'lat shuriyyah. Dan yang ketiga dinamakan dengan i'lat fa'ilah. Dan yang terakhir dinamakan dengan i'lat ghaiyyah. Tidak susah untuk membedakan keempat pembagian ini melalui ilustrasi di atas. Nah, demikianlah empat prinsip dasar berpikir versi Aristoteles yang mesti untuk di aplikasikan dalam setiap proses berpikir untuk tidak jatuh kedalam jurang kesesatan. Kesimpulannya ialah ada empat prinsip dasar berpikir versi Aristoteles, yang pertama dikenal mabdaul huwwiyah, yang kedua dinamakan dengan mabdaul a'dam at-tanaqudh, dan yang ketiga dinamakan dengan mabdaul marfu' dan yang terakhir dinamakan dengan mabdaul i'lliyyah.
Wallahu a'lam bish shawab.
Tulisan yg emejing 👌
ReplyDeleteTerima kasih calon tgk lintoe atas penyemangatnya.
ReplyDelete