Skip to main content

Memahami hakikat cinta dari puncak burni telong

 
                                


Setiap orang tentu memiliki interpretasi sendiri tentang makna cinta. Perbedaan yang muncul berpacu dari sudut pandang dan background Kehidupan yang berbeda walau pada akhirnya akan berada pada titik koordinat yang sama. Sejatinya mendefinisikan cinta tentu bukan hal yang mudah. Sejauh berkaitan dengan rasa tentu tidak akan pernah bisa diwakilkan oleh kata-kata. 

Namun demikian, nalar kita tidak akan pernah mau diam untuk menyingkap tabir misteri dari esensi cinta. Dia akan selalu berimajinasi bak anak ayam yang selalu mencari induknya. Setidaknya dia akan sedikit puas dengan apa yang dia temukan dan menjadi acuan utama didalam memilah dan memilih mana yang seharusnya dipertahankan dan yang semestinya dijauhkan.

Keindahan Puncak burni telong memang tidak dapat diragukan. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya orang yang mendaki dengan susah payah mengorbankan harta dan jiwa demi mereguk keindahan dan pesonanya. Lelah dan letih tak terasa disaat diri seolah berada diatas awan dan rasa dingin yang agaknya mensterilkan hati yang sedang panas dan jiwa yang sedang gersang tanpa ada tetesan cinta yang meyakinkan.

Apalagi disaat fajar menyingsing, panorama alam di ufuk timur kembali menghipnotis mata. Disaat itu hati ini pun berkata, "inilah keindahan yang sebenarnya". Tak lama kemudian dia pun pergi dan sirna, tak tersisa, bagaikan tak pernah ada, malah terik sinar matahari yang dia bawa yang memanaskan ujung kaki sampai ujung kepala. Saat itu hati ini pun kembali tersiksa.

Lama kelamaan sinarnya pun mereda, hati ini pun kembali bangkit menuju singgasana bahagia tanpa ada rasa cinta dan kecewa. Saat itu hati ini pun berkata, "berada ditengah tanpa menoleh ke kanan dan ke kiri, melanjutkan perjuangan, memantapkan prinsip, ternyata jauh lebih bahagia". Walaupun banyak orang yang belum bisa menerimanya.

Tapi siapa sangka prinsip yang sudah dibangun begitu erat dan kokoh kembali retak bahkan pecah bak kaca jatuh ke batu disaat senja menyapa. Mata ini berusaha sekuat tenaga untuk tidak memandangnya. Tapi, hati yang dipenuhi dengan nafsu murka angkara tidak mau diam dan mulai melakukan aksinya. "Lihat saja! Siapa tau keindahan kali ini tidak sama dengan yang sebelumnya dia abadi bukan sekedar fatamorgana".

Disaat muka ini mulai menoleh ke arah senja saat itu pun hati ini merasakan keindahan dan kebahagiaan yang tiada tara. Saat itu pun hati ini kembali berkata," inilah yang aku tunggu-tunggu, mudah-mudahan kali ini tidak sama dengan yang sebelumnya", datang lalu pergi dan menyisakan luka. Keindahan senja yang dinikmati oleh hati lama-kelamaan makin terasa. Dan pada akhirnya berada pada puncak keindahannya. 

Sedang-sedang hati ini merasakan puncak keindahannya, tiba-tiba cahayanya mulai meredup yang kembali mengingatkan luka masa lalu nan hampa. Sedikit demi sedikit keindahannya kembali berkurang dan akhirnya hilang tak tersisa. Disaat senja menyapa malam hati ini kembali merasakan luka yang dulu pernah dirasakan. Tapi, kali ini lebih kuat dan sadis Karena telah masuk ke dalam jurang yang sama.

Malam pun tiba kegelapan yang dia bawa, hati ini pun mulai galau, gelisah, merana. Keindahan senja rupanya tidak memberikan kebahagiaan abadi tapi hanya fatamorgana semata. Penyesalan yang datang memang tidak lagi berguna. Nasi sudah jadi bubur. Hanya cahaya rembulan dan bintanglah yang membuat diri ini sedikit bangkit untuk kembali meraih harapan.

Mencoba melupakan masa lalu dan merajut masa depan yang lebih cerah. Karena terlalu menyesali hal dimasa lalu tidak menyelesaikan masalah, malah membuat diri ini kehilangan gairah. Kesalahan di masa lalu dijadikan sebagai barometer bertingkah. Karena pengalaman memang guru yang bertuah yang akan meniti setiap langkah. Inilah pilihan yang paling tepat yang membuat derajat diri ini terangkat disisi maha pemurah.

Beginilah sedikit kira-kira gambaran tentang cinta yang langsung saya laporkan dari puncak burni telong. Dalam artian cinta itu terkadang datang tanpa diundang, pergi tanpa pamit. Kayak jalangkung lah kira-kira. Keindahan, kebahagiaan, yang engkau dapatkan dari cinta bersifat sementara dan hanya fatamorgana andai engkau tidak mampu mengelolanya. 

Cinta yang tidak dibalut dengan ikatan suci akan berakhir tragis yang membuat jiwa anda berjanji tidak masuk lagi kedalamnya. Tapi, itu sesuatu yang tidak mungkin. Karena suatu saat pasti anda kembali masuk ke dalam dunianya. Karena memang bukan itu jalan keluarnya, tetapi, birokrasi percintaanlah yang sedikit harus anda kuasai. Masuk ke tempat musuh tanpa ada informasi yang memadai sama dengan bunuh diri. 

Begitu pula masuk kedalam dunia percintaan tanpa ilmu yang memadai sama dengan merusak hati. Maka, kalau anda ingin cinta anda abadi maka, -sekali lagi- balutlah dia dengan ikatan suci, tidak sampai disitu, cintailah sesuatu karena dia zat yang maha suci yang tidak luput ditelan zaman dan masa. Bukan seperti fajar dan senja yang hanya memberi kebahagian sesaat yang akhirnya ditelan oleh terik matahari dan gelapnya malam.

Kalau ini anda amalkan insya Allah cinta anda akan abadi selama-lamanya bukan hanya fatamorgana yang menyisakan benci dan luka, cinta yang abadi yang tak luput oleh zaman dan tak lekang oleh masa, bukan sekedar didunia tetapi juga di akhirat kelak nantinya, inilah kebahagiaan yang kita cita-citakan bersama, bergandengan tangan sama-sama masuk kesurganya. Amin ya rabbal alamin.





  

   

Comments

Popular posts from this blog

Memahami konsep dalalah muthabaqah, tadhammun, dan iltizam.

Apa yang anda pahami ketika mendengar kata "Corona"? Ya, tentu yang anda pahami ialah nama bagi satu virus yang mematikan yang berasal dari Wuhan China yang dalam beberapa bulan ini menjadi trending topik hampir di seluruh media sosial dan juga mainstream. Apa yang anda pahami ketika mendengar kata "Wanda"? Ya, anda yang mengenalnya, tentu anda akan bilang bahwa dia seorang wanita yang berasal dari kampung seberang, yang baru tamat sekolah, yang memiliki wajah lumayan cantik, ala kadar lah pokoknya. Dan masih banyak lagi ciri-ciri yang dia miliki yang membedakannya dengan orang-orang yang lain. Boleh saja anda memahami wanita atau lelaki yang lain yang namanya juga "Wanda" yang tidak sama seperti yang mendarat di kepala saya. Karena, yang menjadi poinnya disini ialah ketika mendengar kata tersebut, ada sesuatu yang anda pahami disana. Yaitu, seseorang yang bernama Wanda yang anda kenal itu. Nah, di dalam disiplin ilmu mantiq (logika) pemahaman a...

Mode bertahan

Tidak semua wajah yang cerah adalah tanda hati yang tenang. Kadang di balik senyum yang tampak kuat dan stabil ada luka yang sengaja ditutupi agar tidak terlihat. Manusia modern hidup dengan beban yang berbeda: tekanan sosial, perbandingan yang terus-menerus, tuntutan hasil yang instan dan arus informasi yang tak pernah berhenti. Semua itu membuat seseorang lupa arah, kehilangan fokus, dan bingung dengan apa yang sebenarnya sedang ia jalani. Kita merasa kalah dalam perjalanan, kecewa dengan hasil yang terlambat datang, merasa tertinggal dari orang lain, kehabisan semangat dan kesulitan menjaga konsistensi. Ini sudah menjadi penyakit umum yang menyebar diam-diam tanpa gejala fisik, tapi menghancurkan ketenangan batin. Selama tidak ada kesadaran atau cara mengobatinya, hati tetap akan terpenjara meski tubuh bebas bergerak ke mana saja. Jika ingin menilai keadaan hati kita saat ini, tidak perlu melihat hal yang besar,  cukup perhatikan bagaimana kita bereaksi ketika masalah datang. Ap...

Tarim antara fanatik dan ilmu

  Niat baik bisa saja berakibat fatal apabila berlandaskan kepada fanatik bukan kepada ilmu. Menisbatkan suatu perkataan kepada Rasulullah saw dengan tujuan agar orang lain menjadi "baik" padahal Rasulullah saw tidak pernah berkata demikian, maka fal yatabawwak maqa'dahu min an-nar yakni telah disediakan tempatnya di neraka.  Sebelum saya berangkat ke Tarim, ada oknum penceramah yang mengatakan bahwa kalau wanita di Tarim itu seumur hidup cuma tiga kali saja keluar rumah, yang pertama ketika masih kecil keluar bersama orang tuanya, kedua ketika menikah keluar dari rumah orang tua ke rumah suaminya, ketiga saat mereka meninggal di bawa ke kuburannya.  Tetapi pas saya berada di Tarim, faktanya sungguh berbalik. Saya melihat dengan kepala saya sendiri bahwa ada kok wanita Tarim yang keluar rumah seperti pergi ke sekolah, ziarah, belanja dan lain-lain. Terus yang katanya cuma tiga kali keluar rumah itu dimana? Jawabannya itu hanyalah fiktif belaka bukan sebuah fakta.  Na...