Sikap dan juga perilaku yang membuahkan hasil positif tentu bersumber dari berpikir yang benar dan terukur. Tanpa memakai daya nalar yang rasional, tentu akan berdampak besar terhadap kemunduran suatu peradaban. Sumbangsih nalar memang sangat dibutuhkan, apalagi hal-hal yang berkaitan dengan keyakinan-keyakinan di dalam beragama, sebagai langkah untuk memperkokoh keyakinan dan memporak-porandakan serangan yang datang. Tanpa itu, agama akan jadi sebagai bahan tertawaan dan mainan semata.
Hal ini dibuktikan dengan penyertaan dalil- dalil aqli (rasional) oleh para mutakallimin di saat mengurai i'tikad lima puluh, dan juga vonis kafir sebagian dari mereka terhadap muqallid (orang yang ikut-ikutan dalam beragama) . Klaim seperti ini memang berdasar dan bisa dipertanggung jawabkan, mengingat iman muqallid sangat mudah goyang dan rapuh, karena tanpa ditompangi oleh dalil-dalil yang rasional, bahkan yang ijmaly (global) sekalipun.
Ibn An-Nafis di dalam kitabnya syarah wuraiqat menjelaskan sedikitnya ada empat prinsip dasar di dalam berpikir yang dirumuskan oleh Aristoteles seorang filsuf Yunani. Empat prinsip tersebut merupakan hal mendasar di dalam berpikir yang bisa diterima oleh semua orang selama masih mempunyai akal dan nalar yang sehat. Karena, empat prinsip ini merupakan hal yang bersifat dharury (untuk menerimanya tidak perlu kepada proses berpikir dan dalil) dan selalu kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, hanya terkadang nama dan konsekuensinya saja yang tidak kita ketahui.
Seluruh materi didalam ilmu logika sebenarnya berpacu dari empat prinsip ini. Maka, mengabaikannya merupakan kesalahan besar dan dapat menyebabkan jatuh ke dalam jurang kesesatan. Oke, untuk lebih mudah mari kita perhatikan ilustrasi berikut ini dengan seksama. Bayangkan didepan anda terdapat satu sendok, kopi, dan satu kotak kue Ade kak nah. Yang jadi pertanyaannya sekarang ialah, bisakah anda mengatakan bahwa sendok itu ialah kopi? Atau bisakah anda mengatakan kopi itu ialah Ade kak nah? Secara tegas jawabannya tidak. Mengapa? Karena ketiganya ialah hal yang berbeda dan memiliki ciri khasnya masing-masing yang membedakan antara satu dengan yang lain.
Prinsip ini memang sangat mendasar yang bisa diterima oleh orang yang masih bernalar sehat. Ringkasnya prinsip ini ingin mempertegas bahwa sesuatu itu memiliki ciri khasnya masing-masing yang membedakan sesuatu tersebut dengan yang lain. Inilah prinsip pertama dalam berpikir yang dirumuskan oleh Aristoteles yang dinamakan dengan prinsip identitas (mabdaul huwwiyah).
Ibn an-Nafis mendefinisikan prinsip yang pertama ini dengan:
"الشيء يبقي هو هو لا يتغير ولا يتبدل وإن طرأت عليه تغيرات داخلية"
"Sesuatu yang tetap dia itu sebagai dia sendiri yang tidak berubah dan terganti identitasnya walaupun terjadi padanya perubahan yang bersifat internal".
Secara kaca mata matematis, rumusan yang mudah untuk prinsip pertama ini ialah A=A, B=B, dan C=C. Tidak boleh dikatakan A=B, B=C, C=A, hingga seterusnya. Oke, untuk lebih mudah didalam memahami definisi diatas mari kita perhatikan ilustrasi yang lain. Bayangkan didepan anda seorang wanita yang bernama Badratun Nafis dengan ciri-ciri berikut ini:
1. Cantik.
2. Putih.
3. Berat badan 67 kg.
4. Tinggi 1,60 meter.
5. Hidung pesek.
Mungkin ini sedikit ciri-ciri yang bisa saya gambarkan dari sosok Badratun Nafis yang saya kenal itu. Oke, untuk pertanyaan pertama bisakah wanita - yang anda bayang berada didepan anda itu - sebagai Badratun Nafis dan secara bersamaan juga bukan Badratun Nafis? Nalar dan akal yang sehat tentu akan mengatakan tidak. Karena, dia dengan segala ciri-ciri yang dia miliki bersifat tetap dan menjadi dirinya sendiri.
Badratun Nafis ya Badratun Nafis. Dia itu bukan Wanda Savarah, bukan Riahul Muna, bukan Irmayanti, bukan Lingga maharani, dan juga bukan yang lain. Sekali lagi, dia tetap dia bukan yang lain. (Inilah penjelasan dari frase (الشيء يبقي هو هو). Bahkan disaat terjadi perubahan pada ciri-cirinya sekalipun, misalnya wajahnya makin cantik, makin putih, panjangnya bertambah, berat badannya juga bertambah, hidungnya mancung, identitasnya tetap tidak berubah. Ciri-ciri dan tampilan boleh berubah, tapi identitas yang dia miliki masih bersifat tetap. Inilah penjelasan dari frase ( لا يتغير ولا يتبدل وإن طرأت عليه تغيرات داخلية).
Bahkan jika ada dua orang yang kembar misalnya -Ini misalnya- yang memiliki ciri-ciri persis sama 100 persen, dari ujung rambut hingga ujung kaki tidak sedikitpun berbeda. Memang sama persis. Misalnya yang satu namanya Rina, yang satu lagi namanya Rini. Nah, yang jadi pertanyaan sekarang ialah bolehkah kita mengatakan bahwa Rina ialah Rini dan Rini ialah Rina? Maka berangkat dari prinsip yang pertama ini tentu jawabannya tidak boleh sama sekali. Kenapa? Karena walaupun keduanya memiliki ciri-ciri yang sama 100 persen, tetapi tetap keduanya itu memiliki identitas masing-masing yang membedakan antara satu dengan yang lain. Karena tidak mungkin keduanya memiliki identitas yang sama. Nama aja dua orang tentu memiliki dua identitas yang berbeda bukan satu identitas.
Maka, sebuah kekeliruan besar dalam berpikir (logical fallacy) disaat orang Kristen mengatakan bahwa Tuhan itu nabi Isa. Dan nabi Isa itu ialah tuhan. Kecacatan logika mereka sangat jelas terlihat, karena abai terhadap prinsip yang pertama ini. Karena nabi Isa as dengan segala ciri-ciri yang beliau miliki merupakan seorang manusia yang identitasnya tentu berbeda jauh dengan identitas Tuhan. Andai saja terjadi perubahan pada pada ciri-ciri nabi Isa di kemudian hari, tetap tidak berpengaruh terhadap identitasnya. Nabi Isa sebagai manusia, ya, tetap sebagai manusia. Tuhan dengan segala sifat kesempurnaan yang tuhan miliki. Dia tetap sebagai Tuhan. identitasnya tidak akan pernah berubah.
Jadi, kesimpulan untuk prinsip yang pertama ini adalah sesuatu dengan segala ciri-ciri yang dia miliki, dia menjadi dirinya sendiri. Dan perubahan pada ciri-ciri tidak sedikitpun berpengaruh terhadap identitas. Dan untuk prinsip yang kedua, ketiga dan keempat akan kita uraikan pada tulisan mendatang. Insya Allah.
Comments
Post a Comment