Skip to main content

Apa itu prinsip a'dam at-tanaqudh?


                           

kita akan melanjutkan materi sebelumnya yaitu tentang empat prinsip dasar berpikir versi Aristoteles. Kalau prinsip yang pertama ingin mempertegas bahwa "sesuatu dengan segala ciri-ciri yang dia miliki, dia itu menjadi dirinya sendiri", maka, prinsip yang kedua ini ingin mempertegas bahwa dua hal yang bertentangan (kontradiksi) tidak mungkin keduanya itu berhimpun secara bersamaan.  Kalau dia itu dihukumi dengan positif tidak mungkin secara bersamaan dia juga dihukumi dengan negatif, begitu juga kalau dia dihukumi dengan negatif tidak mungkin dia dihukumi secara positif secara bersamaan. 

Sampai disini sudah nampak dimana perbedaan antara prinsip yang pertama dan prinsip yang kedua. Kalau yang pertama berkaitan dengan sesuatu yang mufrad, maka yang kedua ini berkaitan dengan sesuatu yang murakkab yakni qadhiyyah (proposisi), artinya -sekali lagi-  dua qadhiyyah yang kontradiksi tidak mungkin keduanya itu berhimpun secara bersamaan. Seperti cinta dan tidak cinta, rindu dan tidak rindu, benci dan tidak benci. Orang yang masih bernalar sehat tidak mungkin mengucapkan saya mencintaimu dan tidak mencintaimu. Saya merinduimu dan tidak merinduimu. Saya membencimu dan tidak membencimu. Karena memang keduanya ialah hal yang bertentangan. 

Jadi, prinsip kedua ini ingin memberi arah di dalam berpikir supaya tidak membenarkan dua hal yang kontradiktif. Menolak pembenaran terhadap dua hal yang kontradiktif memang sudah menjadi suatu keniscayaan. Prinsip kedua ini sebenarnya sangat sederhana, tidak ada seorang pun yang masih waras dan bernalar sehat yang bisa mengingkarinya, lintas aliran, agama, bahkan orang yang tidak beragama sekalipun tidak bisa menolak prinsip yang kedua ini.

Kalau ingin kita rumuskan secara kaca mata matematis, maka prinsip yang kedua ini menolak pernyataan A= bukan selain A. B=bukan selain B. C=bukan selain C, hingga seterusnya. Mengaplikasikan prinsip kedua ini di dalam proses berpikir sudah menjadi suatu keniscayaan. Abai terhadapnya menyebabkan kita jatuh ke dalam jurang kesesatan. Namun, masih banyak diluar sana orang-orang yang tidak mengindahkan prinsip kedua didalam proses berpikir. Seperti orang yang menganut ajaran pluralisme  yang mengatakan semua agama itu benar, mengingat semuanya menuju kepada Tuhan yang sama.

Oke, mari kita uji narasi diatas, benarkah semua agama yang ada di dunia ini pasti benar terlepas apakah dia itu agama samawi atau non samawi?  Kalau kita mengaplikasikan prinsip kedua ini yaitu a'dam at-tanaqudh tentu kesalahan dan kecacatan narasi diatas tak terelakkan. Karena, disaat menvonis semua agama pasti benar, tentu disana sudah terjadi kontradiksi. Kenapa? Karena berbeda agama tentu berbeda prinsip yang dianut. Misalnya agama islam yang ajarannya mengatakan bahwa nabi Muhammad Saw sebagai Nabi dan Rasul, sedangkan agama Kristen tidak mengakui itu. Perhatikan proposisi dibawah ini:


Orang Islam berkata:
Nabi Muhammad Saw seorang Nabi dan Rasul.

Orang Kristen berkata:
Nabi Muhammad Saw bukan seorang Nabi Rasul.

Bukankah keduanya merupakan kontradiksi? Di dalam ilmu logika telah dijelaskan bahwa qadhiyyah syakhsiyyah mujabah tanaqudhnya (kontradiksi) ialah qadhiyyah syakhsiyyah salibah. Maka jelas dua proposisi diatas merupakan tanaqud, maka, disaat keduanya tanaqud, jelaslah-sekali lagi- bahwa tidak mungkin keduanya berhimpun secara bersamaan, dan juga tidak mungkin keduanya sama-sama benar secara bersamaan. Yang satu pasti benar dan yang lain pasti salah.

Kita selaku orang beriman tentu telah meyakini dengan sebenar-benarnya bahwa Nabi Muhammad Saw merupakan seorang nabi dan Rasul. Orang yang yang mengatakan semua agama pasti benar, berkonsekuensi mengamini keduanya secara bersamaan. Nabi Muhammad Saw sebagai seorang Nabi dan Rasul dia yakini, Nabi Muhammad Saw bukan seorang Nabi dan Rasul juga dia yakini. Ini jelas kontradiktif. Dan pemikiran seperti ini jelas salah dan fatal dan terdapat dua kutub yang korslet di kepalanya. 
   
Dari prinsip kedua ini melahirkan beberapa konsep yang lain di dalam ilmu logika, diantaranya a'kas, a'dam wal malakah, dhid, thadhayuf, dan yang lain. Untuk definisi dan rinciannya insya Allah akan kita jelaskan pada tulisan mendatang. Maka, jangan kemana-mana dulu. Iya. Jadi kesimpulannya ialah prinsip yang kedua ini ingin mempertegas bahwa sesuatu dengan segala ciri-ciri yang dia miliki bukan lainnya sesuatu dan prinsip a’dam at-Tanaqudh ini merupakan pondasi dasar terhadap mantiq aristu. Artinya kaedah-kaedah yang tersaji di dalam logika Aristoteles yang menjadi acuan dasarnya itulah prinsip yang kedua ini. 

Dan pesan logikanya ialah semampu mungkin dalam proses berpikir untuk menjauhi terjadinya kontradiksi yang memang tertolak secara mentah-mentah oleh akal dan nalar yang sehat. Dan untuk prinsip yang kedua dan ketiga, insya Allah akan kita pelajari pada tulisan selanjutnya. Wallahu a'lam bish shawab. 

Comments

Popular posts from this blog

Memahami konsep dalalah muthabaqah, tadhammun, dan iltizam.

Apa yang anda pahami ketika mendengar kata "Corona"? Ya, tentu yang anda pahami ialah nama bagi satu virus yang mematikan yang berasal dari Wuhan China yang dalam beberapa bulan ini menjadi trending topik hampir di seluruh media sosial dan juga mainstream. Apa yang anda pahami ketika mendengar kata "Wanda"? Ya, anda yang mengenalnya, tentu anda akan bilang bahwa dia seorang wanita yang berasal dari kampung seberang, yang baru tamat sekolah, yang memiliki wajah lumayan cantik, ala kadar lah pokoknya. Dan masih banyak lagi ciri-ciri yang dia miliki yang membedakannya dengan orang-orang yang lain. Boleh saja anda memahami wanita atau lelaki yang lain yang namanya juga "Wanda" yang tidak sama seperti yang mendarat di kepala saya. Karena, yang menjadi poinnya disini ialah ketika mendengar kata tersebut, ada sesuatu yang anda pahami disana. Yaitu, seseorang yang bernama Wanda yang anda kenal itu. Nah, di dalam disiplin ilmu mantiq (logika) pemahaman a...

Mode bertahan

Tidak semua wajah yang cerah adalah tanda hati yang tenang. Kadang di balik senyum yang tampak kuat dan stabil ada luka yang sengaja ditutupi agar tidak terlihat. Manusia modern hidup dengan beban yang berbeda: tekanan sosial, perbandingan yang terus-menerus, tuntutan hasil yang instan dan arus informasi yang tak pernah berhenti. Semua itu membuat seseorang lupa arah, kehilangan fokus, dan bingung dengan apa yang sebenarnya sedang ia jalani. Kita merasa kalah dalam perjalanan, kecewa dengan hasil yang terlambat datang, merasa tertinggal dari orang lain, kehabisan semangat dan kesulitan menjaga konsistensi. Ini sudah menjadi penyakit umum yang menyebar diam-diam tanpa gejala fisik, tapi menghancurkan ketenangan batin. Selama tidak ada kesadaran atau cara mengobatinya, hati tetap akan terpenjara meski tubuh bebas bergerak ke mana saja. Jika ingin menilai keadaan hati kita saat ini, tidak perlu melihat hal yang besar,  cukup perhatikan bagaimana kita bereaksi ketika masalah datang. Ap...

Tarim antara fanatik dan ilmu

  Niat baik bisa saja berakibat fatal apabila berlandaskan kepada fanatik bukan kepada ilmu. Menisbatkan suatu perkataan kepada Rasulullah saw dengan tujuan agar orang lain menjadi "baik" padahal Rasulullah saw tidak pernah berkata demikian, maka fal yatabawwak maqa'dahu min an-nar yakni telah disediakan tempatnya di neraka.  Sebelum saya berangkat ke Tarim, ada oknum penceramah yang mengatakan bahwa kalau wanita di Tarim itu seumur hidup cuma tiga kali saja keluar rumah, yang pertama ketika masih kecil keluar bersama orang tuanya, kedua ketika menikah keluar dari rumah orang tua ke rumah suaminya, ketiga saat mereka meninggal di bawa ke kuburannya.  Tetapi pas saya berada di Tarim, faktanya sungguh berbalik. Saya melihat dengan kepala saya sendiri bahwa ada kok wanita Tarim yang keluar rumah seperti pergi ke sekolah, ziarah, belanja dan lain-lain. Terus yang katanya cuma tiga kali keluar rumah itu dimana? Jawabannya itu hanyalah fiktif belaka bukan sebuah fakta.  Na...