Saya yakin, pernah ketika anda mendengar kata "pernikahan", namun, yang mendarat di kepala anda ialah suatu kebahagiaan yang di impi-impikan oleh jomblowan dan jomblowati sebagai langkah untuk memperbendek durasi kejombloannya. Dan juga tak jarang ketika kata "wanita" mendarat di telinga anda, namun, yang anda pahami di sana ialah cantiklah, dia sebagai ibu rumah tanggalah, makhluk yang sangat indahlah, ataupun hal-hal lain yang berkaitan dengan wanita.
Begitu pula ketika anda mendengar kata "es" yang anda pahami ialah dingin. Ketika mendengar kata "api" yang anda pahami disana ialah panas. Ketika mendengar nama bapaknya, malah yang terbayang ialah anaknya. memang anda, ada-ada aja. Masak, mendengar nama bapaknya, tapi, yang terbesit di pikiran anda malah anak perempuannya. Namun demikian, itu memang hal yang wajar-wajar saja. Masih bisa dimaklumi. Atau malah sebaliknya, mendengar nama anaknya, yang terbayang ialah bapaknya. Dan itu juga memang hal yang logis, apalagi, ayahnyalah nanti yang akan menjabat tangan anda sebagai pertanda ijab akan segera dimulai.
Nah, kalau anda memang pernah membaca tulisan-tulisan yang lalu. Sampai disini, anda sudah bisa sedikit memahami berkaitan dengan apa beberapa contoh yang telah penulis jelaskan diatas. Kira-kira berkaitan dengan apa? Ya, tentu. Ilustrasi diatas semuanya sebagai contoh-contoh dari dalalah iltizam secara umum. Karena, yang anda pahami disana ialah bukan sebagian makna dari kata yang anda dengar dan juga bukan makna utuh dari kata tersebut. Tetapi, yang anda pahami disana ialah sesuatu yang berada di luar esensi dari kata yang anda dengar itu, sekali lagi,
sesuatu yang berada di luar esensi dari kata itu, inilah frase yang perlu anda garis bawahi dan anda pahami sebaik-baiknya.
Seperti halnya "pernikahan" yang anda pahami disana ialah kebahagiaan. Mendengar kata "empat" yang anda pahami ialah genap. Nah, yang menjadi pertanyaannya sekarang ialah, apakah "kebahagiaan" itu sebagian atau seluruh makna dari "pernikahan" ? Kalau anda sedikit perhatikan, tentu anda akan menjawab tidak. Alasannya logis, karena memang "pernikahan" bukanlah kebahagiaan, dan kebahagiaan bukanlah "pernikahan". Pernikahan satu perkara, sedangkan kebahagiaan merupakan perkara yang lain, keduanya hal yang berbeda. Namun demikian, keduanya masih memiliki keluzuman (keterkaitan).
Karena memang "pernikahan" ialah sesuatu yang membahagiakan. Walaupun, tidak semua "pernikahan" bisa dilambangkan sebagai sebuah kebahagiaan. Karena disana juga tidak sedikit kita jumpai pernikahan-pernikahan, namun tidak sedikitpun kebahagiaan yang di rasakan. Itu terserah. Yang intinya, diantara kata "pernikahan" dan kata "kebahagiaan" keduanya memiliki keluzuman (keterkaitan) yang sudah bisa dikatakan pemahaman terhadapnya sebagai dalalah iltizam.
Agak sedikit berbeda dengan contoh yang kedua, memang antara empat dan genap memiliki makna yang berbeda. Genap satu perkara dan empat perkara yang lain. Keduanya tidak sama. Namun keluzuman (keterkaitan) antara keduanya agak lebih dari pada keluzuman (keterkaitan) pada contoh yang pertama. Karena, tidak sekalipun angka empat yang dihukumi dengan selain genap. Seluruhnya genap tidak satupun yang ganjil, kama sayakti.
Berbeda halnya dengan contoh yang pertama, karena disana ada pernikahan tanpa rasa kebahagiaan disana. Sampai disini dulu, kesimpulannya ialah ketika anda mendengar kata "pernikahan" terbayang di dalam benak anda sebagai sebuah "kebahagiaan" dan ketika mendengar kata "empat" yang mendarat di kepala anda ialah "genap" itulah yang dinamakan dengan dalalah iltizam secara umum. Sekali lagi, secara umum. Baik di dalam perspektif ilmu mantik (logika) ataupun di dalam disiplin ilmu-ilmu aqliyyat yang lain.
Perhatikan frase "secara umum" pada uraian kalimat diatas. Sudah? Ya, oke! Kita lanjutkan. Nah, sebelumnya kita disini akan mundur beberapa langkah dengan satu pertanyaan di ajukan kepada anda. Apakah yang dimaksud dalalah iltizam di dalam disiplin ilmu mantik (logika)? Jawabannya tentu sama dengan pernyataan diatas. Yang di maksud dari dalalah iltizam ialah pemahaman seseorang terhadap sesuatu yang keluar dari esensi suatu lafadz, namun diantara lafadz dan sesuatu tersebut masih memiliki keluzuman (keterkaitan).
Namun, untuk dalalah yang dianggap sebagai dalalah iltizam oleh para manatiqah (logikawan) di sana ada tiga syarat yang mesti untuk di penuhi. Tiga syarat yang dimaksud ialah:
1,luzum (keterkaitan) antara keduanya harus luzum bayyin (keterkaitan yang jelas).
2, luzum bayyin (keterkaitan yang jelas) tersebut harus bi ma'kna Al akhas( pemaknaan yang lebih khusus).
3, luzumnya harus pada zihin (nalar).
Bagaimana? Jelas? Kalau belum, mari kita lihat pemetaan dari masalah ini agar lebih jelas dan terang dan lebih meresap di dalam jiwa (auqa' fin nafsi). Oke! Kita ulangi sekali lagi yang dimaksud dalalah iltizam di dalam disiplin ilmu mantik ialah pemahaman seseorang terhadap sesuatu yang mana sesuatu tersebut keluar dari esensi atau makna dari suatu lafadz, namun keduanya masih memiliki keluzuman (keterkaitan) yang bayyin bil ma'kna Al akhas dan juga keluzumannya harus di dalam zihin (nalar). Contoh seperti empat dan genap.
Disini, ada beberapa kata kunci yang harus diketahui. Yang pertama, lazim (yang berkaitan). kalau pada contoh diatas ialah genap. Dan yang kedua ialah malzum (yang dikaitkan). Pada contoh diatas ialah empat. Dan yang terakhir ialah luzum (keterkaitan) antara empat dan genap pada contoh diatas. Nah, luzum inilah yang akhirnya terbagi kepada tiga dengan melihat kepada ruang luzumnya.
1, luzum pada kharij (di alam luar) seperti kuning pada burung kepodang (rampukeuh dalam bahasa Aceh) karena bisa saja kita bayangkan atau imajinasikan dia itu berwarna dengan selain kuning. Dan contoh yang sering di ulang-ulang di dalam kitab mantik klasik ialah hitam yang terdapat pada gagak.
2, luzum pada zihin (di alam dalam/nalar/ aqal) seperti buta dan melihat, waras dan gila, suami dan istri. Karena memang tidak mungkin kita mengetahui makna buta sebelum kita bisa memahami makna dari melihat. Begitu pula tidak mungkin kita bisa memahami makna dari ke-suami-an sebelum kita bisa memahami makna ke-istri-an. Dan lain-lain.
3, luzum pada zihin dan kharij ( di dalam nalar dan di alam luar) seperti ganjil dan tiga. Yang pertama akal kita tidak mampu untuk membayangkan angka tiga itu bukan ganjil dan di alam luar juga tidak satupun kita dapatkan angka tiga bukan ganjil.
Pembagian ini dengan melihat kepada ruangnya, dan ada satu lagi pembagian luzum dengan melihat kepada jelas dan tidak jelasnya dan dia itu terbagi 2:
1, luzum bayyin (keterkaitannya jelas) yaitu terhadap keluzumannya tidak membutuhkan kepada dalil. Seperti cantik dan wanita. Karena memang kecantikan ialah sifat yang terkhusus di sandang oleh para wanita, tidak untuk banci, apalagi laki-laki.
2, luzum ghairu bayyin (keterkaitannya tidak jelas) yaitu terhadap keluzumannya membutuhkan kepada dalil seperti alam dan keberadaan tuhan. Alasannya logis karena memang disana membutuhkan kepada dalil yang menegaskan terhadap terkaitnya antara alam dan keberadaan tuhan. Seperti halnya dia itu bahru atau dia itu sesuatu yang mungkin. Sebagaimana dijelaskan di dalam fan tauhid.
Nah, luzum bayyin inilah, yang akhirnya terbagi lagi menjadi dua:
1, luzum bayyin bil ma'kna Al a'am (keterkaitan yang jelas dengan pemaknaaan yang umum) yaitu untuk menyimpulkan adanya keluzuman (keterkaitan) antara keduanya mesti untuk memahami lazim dan juga malzum. Seperti halnya antara ungu dan janda. Karena, memang tidak serta merta ketika mendengar kata ungu langsung pikiran kita terbayang kepada "janda". Namun, ketika mendengar kata "ungu" setelah itu kita mendengar kata "janda", maka, disana kita bisa menemukan keluzuman (keterkaitan) antara keduanya. Kenapa? Karena memang bagi sebagian orang mengidentikkan warna ungu sebagai warna janda.
2, luzum bayyin bil ma'kna Al akhas (keterkaitan dengan pemaknaan yang lebih khusus) yaitu terhadap keluzumannya tidak membutuhkan untuk mengetahui lazim dan malzum. Tetapi, memada ketika mengetahui malzum langsung terbayang kepada lazim. Seperti halnya api dan panas. Ketika kita membayangkan api, langsung yang mendarat di dalam kepala kita ialah panas. Ketika membayang suami langsung terbayang bahwa dia itu laki- laki. Dan masih banyak contoh-contoh yang lain yang kita temukan dalam kehidupan sehari-hari.
Itulah pembagian luzum dengan melihat kepada dua tinjauan, yang pertama kepada ruangnya dan yang kedua kepada jelas atau tidak jelasnya. Namun keluzuman yang dianggap oleh para manatiqah sebagaimana telah penulis jelaskan diatas ialah luzum bayyin bil ma'kna Al akhas dan keluzumannya harus pada zihin (nalar). Sekali lagi, luzum bayyin bil ma'kna Al akhas dan keluzumannya harus pada zihin (nalar). Baik, hanya pada zihin saja, atau juga luzum pada kharij. Dan inilah yang menjadi titik pembeda antara luzum dalam ilmu mantik dengan luzum pada ilmu-ilmu yang lain.
Karena luzum pada ilmu-ilmu yang lain tidak disyaratkan hal seketat ini. Seperti luzum pada ilmu Ushul fiqh misalnya, yang akhirnya terbagi kepada tiga, iqtidhak, imak, dan isyarah yang berpedoman walaupun tidak sampai pada batas "luzum bayyin bil ma'kna Al akhas dan juga pada zihin" sudah bisa dikatakan sebagai luzum dan juga pada akhirnya bisa dikatakan pemahaman kita terhadap lazimnya dari malzum tersebut sebagai dalalah iltizam di dalam perspektif ilmu Ushul fiqh.
Jadi, dari uraian yang agak panjang, ada satu poin yang sangat perlu kita ingat yaitu dalalah iltizam di dalam ilmu mantik (logika) ialah pemahaman kita terhadap sesuatu yang mana sesuatu tersebut keluar dari makna atau esensi lafadz tersebut. Namun, diantara keduanya memiliki keluzuman (keterkaitan) yang bayyin bil ma'kna Al akhas dan juga ruang luzumnya di dalam zihin(nalar). Baik, pada nalar saja atau beserta pada kharij. Contoh pada nalar saja sepert buta dan melihat, waras dan gila, Pokoknya hal-hal yang keduanya digolongkan kedalam muthadhayifain (relation). Dan Contoh luzum pada zihin dan beserta pada kharij seperti empat dan genap, api dan panas, es dan dingin, dan di sana masih ada ribuan contoh-contoh yang lain.
Sedangkan keluzuman (keterkaitan) yang tidak sampai pada luzum bayyin bil ma'kna Al akhas dan keluzumannya pada zihin, maka, tidak dinamakan pemahaman terhadapnya tersebut sebagai dalalah iltizam di dalam perspektif ilmu mantik (logika) walaupun tetap dinamakan di dalam disiplin ilmu-ilmu yang lain. Sekian. Wallahu a'lam bishawab.
#Alakadar
Comments
Post a Comment