Benarkah Hagia Sophia sudah dialih fungsinya dari museum menjadi mesjid?
Anda sebagai objek dari pertanyaan berada dalam dua kemungkinan, yang pertama anda tau. Dan yang kedua bisa jadi anda tidak tau-menau terhadap jawaban dari pertanyaan diatas.
Nah, dalam perspektif ilmu mantik (logika), pengetahuan anda terhadap pertanyaan diatas diistilahkan dengan ilmu, sedangkan ketidaktahuan anda diistilahkan dengan jahlu(bodoh).
Dan jawaban dari pengetahuan anda terhadap pertanyaan diatas juga berada pada dua kemungkinan. Yang pertama anda mengamini memang Hagia Sophia sudah dialih fungsinya dari museum menjadi mesjid, dan yang kedua anda menolak terhadap pengalihan fungsi dari Hagia Sophia tersebut dalam artian dia masih difungsikan sebagai museum sebagaimana sedia kala.
Dalam disiplin ilmu mantik (logika), pengetahuan anda terhadap ya atau tidaknya Hagia Sophia telah dialih fungsinya dari museum menjadi mesjid di istilahkan dengan tashdiq (pembenaran). Kenapa? Karena disana ada unsur penghukuman yaitu penghukuman alih fungsi-an(ijab) terhadap Hagia Sophia dari museum menjadi mesjid atau penghukuman ketidak beralihan(salb) fungsian terhadap Hagia Sophia dari museum ke mesjid sebagaimana telah kita ketahui secara ringkas pada tulisan-tulisan yang lalu.
Singkatnya, apabila anda tahu maka dianggap sebagai ilmu oleh para manatiqah(logikawan), dan apabila anda tidak tahu maka para manatiqah (logikawan) mengganggapnya sebagai sebuah kebodohan(jahlu).
Dan apabila pengetahuan anda tidak ada unsur penghukuman di dalamnya yaitu terhadap sesuatu yang mufrad(tunggal), maka di istilahkan dengan tasawwur (konsep). Dan apabila pengetahuan anda terdapat unsur penghukuman di dalamnya maka di istilahkan dengan tashdiq (pembenaran).
Dan yang perlu untuk dicatat disini ialah hal yang dapat membawa kita kepada sebuah tasdiq (penghukuman) dalam ilmu Mantik (logika) dikenal dengan istilah hujjah/qiyas (argumen) sebagaimana hal yang dapat membawa kita kepada sebuah tasawwur (konsep) yakni pengetahuan yang tunggal diistilahkan dalam ilmu mantik (logika) dengan definisi.
Seperti halnya contoh di atas, untuk sampai kita kepada tasdhiq (pembenaran) terhadap Hagia Sophia telah dialih fungsikan kepada mesjid atau tidak, maka disini kita memerlukan hujjah(argumen) untuk membuktikan terhadap kebenaran dari pernyataan kita.
Untuk lebih fokus perhatikan diskusi berikut ini!
Soal: benarkah haghia Sophia telah dialih fungsinya sebagai mesjid?
Jawab: ya, memang haghia Sophia sudah dialih fungsinya sebagai mesjid.
Soal: apa alasan anda mengatakan bahwa haghia Sophia telah dialih fungsikan sebagai mesjid.
Nah, sampai titik ini anda memerlukan untuk membentuk sebuah qiyas/hujjah(argumen) sebagai pendukung atas jawabannya anda diatas.
Maka anda menjawab misalnya:
Jawab: seandainya haghia Sophia tidak dialih fungsinya sebagai mesjid tentu Recep Tayyip Erdogan (presiden Turki) tidak secara resmi mengumumkan terhadap pengalih fungsian Hagia Sophia menjadi mesjid. Tetapi Recep Tayyip Erdogan secara resmi mengumumkan terhadap pengalih fungsian Hagia Sophia menjadi mesjid. Maka natijahnya/konklusi (kesimpulannya) adalah Haghia Sophia memang telah dialih fungsinya dari museum menjadi mesjid.
Setelah anda menyuguhkan argumen tersebut saya Yaqin si penanya pasti akan bisa untuk menerima jawaban dari anda tersebut kenapa? Karena memang anda telah memberikan argumen yang kuat terhadap jawaban anda dan model dari argumen diatas dalam ilmu Mantik (logika) diistilahkan dengan qiyas syartiyyah muttasilah (argumen hipotetis bersambung)
Yang mungkin akan dijelaskan secara panjang lebar pada tulisan selanjutnya.
Nah, kesimpulannya adalah pengetahuan yang ada unsur penghukuman didalamnya dalam ilmu mantik (logika) diistilahkan dengan tashdiq (pembenaran) dan hal yang membawa kita kepada pengetahuan tersebut dalam ilmu Mantik (logika) dikenal dengan istilah hujjah/qiyas ataupun argumen.
Bereh Tgk sayet
ReplyDeleteTerima kasih atas kunjungannya
Delete