Skip to main content

Perlukah belajar ilmu debat?


Pernahkah Anda berdebat dengan seseorang, lalu pulang dengan perasaan menang, tetapi setelah mandi dan berbaring di tempat tidur, tiba-tiba teringat bahwa argumen lawan sebenarnya masuk akal? Atau pernahkah Anda berniat berdiskusi untuk mencari kebenaran, tetapi berakhir dengan saling meninggikan suara? Kalau pernah, selamat! Anda sudah merasakan betapa rumitnya dunia perdebatan.

Perbedaan pendapat memang tidak bisa dihindari. Kadang kita berbeda dengan orang lain, kadang berbeda dengan keluarga sendiri, bahkan sesekali pikiran kita hari ini bertengkar dengan pikiran kita kemarin. Dulu kita yakin A benar, sekarang setelah membaca buku dan mendengar penjelasan baru, ternyata B lebih masuk akal. Artinya, berubah pikiran bukan selalu tanda ketidakkonsistenan. Bisa jadi, itu pertanda bahwa kita sedang belajar.

Namun, menghargai perbedaan bukan berarti semua pendapat harus diterima mentah-mentah. Kalau semua pandangan dianggap benar, lalu untuk apa kita berpikir, belajar, dan mencari dalil? Ada pendapat yang perlu diluruskan karena bertentangan dengan kebenaran, merugikan masyarakat, atau mengancam nilai-nilai kemanusiaan. Persoalannya, bagaimana cara meluruskannya tanpa membuat diskusi berubah menjadi pertandingan urat leher?

Di sinilah ilmu debat diperlukan.

Coba perhatikan perdebatan di media sosial. Seseorang mengajukan argumen, lalu lawannya membalas dengan hinaan. Ketika diminta menjelaskan dalil, ia malah membahas kehidupan pribadi lawan. Saat kehabisan jawaban, ia menaikkan volume suara seolah-olah kebenaran bisa diukur menggunakan desibel. Ada pula yang belum selesai membaca komentar, tetapi sudah menyiapkan kemarahan. Lucunya, setelah semua itu, masing-masing pulang dengan keyakinan bahwa dirinyalah pemenang.

Padahal, menang berdebat tidak sama dengan berhasil menemukan kebenaran. Bisa saja seseorang menang dalam sorak-sorai penonton, tetapi kalah dalam kekuatan argumentasi. Sebaliknya, seseorang yang mengakui kekeliruannya justru menunjukkan keberanian intelektual. Sebab, tujuan diskusi bukan mempertahankan gengsi sampai titik darah penghabisan, melainkan menguji pendapat agar kita mengetahui mana yang lebih kuat.

Ilmu debat mengajarkan cara menyampaikan pendapat, menyusun alasan, mengajukan bukti, menjawab sanggahan, dan menunjukkan kelemahan argumen secara teratur. Kita juga belajar menghadapi pertanyaan sulit tanpa panik, serta menerima koreksi tanpa merasa harga diri sedang digadaikan. Dengan ilmu ini, kita tidak harus menyetujui lawan bicara, tetapi setidaknya kita tahu bagaimana membantahnya secara tepat dan terhormat.

Ilmu debat juga tidak bisa dipisahkan dari ilmu logika. Jika logika mengajarkan kita cara berpikir yang benar, ilmu debat melatih kita menerapkan pemikiran tersebut ketika berhadapan dengan pendapat orang lain. Pembahasan mengenai definisi, proposisi, hubungan antarkonsep, pembagian, dan silogisme bukan sekadar tumpukan istilah yang membuat kepala berasap. Semua itu dapat membantu kita menilai apakah sebuah kesimpulan benar-benar mengikuti alasan yang diberikan atau hanya terlihat meyakinkan.

Jadi, apakah belajar ilmu debat berarti kita harus pandai membungkam orang lain? Tentu tidak. Kita justru perlu belajar agar tidak sembarangan berbicara, tidak mudah tertipu oleh argumen yang kelihatannya hebat, dan tidak buru-buru menganggap diri paling benar.

Sebab, perdebatan yang baik bukanlah ketika lawan kehilangan kata-kata, melainkan ketika kedua belah pihak memperoleh pemahaman yang lebih baik. Kalau akhirnya kita menemukan bahwa pendapat sendiri keliru, tidak perlu malu. Mengubah pendirian karena kebenaran jauh lebih terhormat daripada mempertahankan kesalahan hanya demi gengsi.

Pada akhirnya, ilmu logika membantu kita berpikir dengan benar, sedangkan ilmu debat membimbing kita mempertahankan dan menguji pemikiran dengan cara yang benar. Dengan keduanya, kita bisa berbeda pendapat tanpa harus bermusuhan. Sebab, mencari kebenaran tidak membutuhkan lawan yang harus dibenci, tetapi teman berdiskusi yang berani berpikir, mau mendengar, dan bersedia mengakui kekeliruan.

Comments

Popular posts from this blog

Mode bertahan

Tidak semua wajah yang cerah adalah tanda hati yang tenang. Kadang di balik senyum yang tampak kuat dan stabil ada luka yang sengaja ditutupi agar tidak terlihat. Manusia modern hidup dengan beban yang berbeda: tekanan sosial, perbandingan yang terus-menerus, tuntutan hasil yang instan dan arus informasi yang tak pernah berhenti. Semua itu membuat seseorang lupa arah, kehilangan fokus, dan bingung dengan apa yang sebenarnya sedang ia jalani. Kita merasa kalah dalam perjalanan, kecewa dengan hasil yang terlambat datang, merasa tertinggal dari orang lain, kehabisan semangat dan kesulitan menjaga konsistensi. Ini sudah menjadi penyakit umum yang menyebar diam-diam tanpa gejala fisik, tapi menghancurkan ketenangan batin. Selama tidak ada kesadaran atau cara mengobatinya, hati tetap akan terpenjara meski tubuh bebas bergerak ke mana saja. Jika ingin menilai keadaan hati kita saat ini, tidak perlu melihat hal yang besar,  cukup perhatikan bagaimana kita bereaksi ketika masalah datang. Ap...

Memahami konsep dalalah muthabaqah, tadhammun, dan iltizam.

Apa yang anda pahami ketika mendengar kata "Corona"? Ya, tentu yang anda pahami ialah nama bagi satu virus yang mematikan yang berasal dari Wuhan China yang dalam beberapa bulan ini menjadi trending topik hampir di seluruh media sosial dan juga mainstream. Apa yang anda pahami ketika mendengar kata "Wanda"? Ya, anda yang mengenalnya, tentu anda akan bilang bahwa dia seorang wanita yang berasal dari kampung seberang, yang baru tamat sekolah, yang memiliki wajah lumayan cantik, ala kadar lah pokoknya. Dan masih banyak lagi ciri-ciri yang dia miliki yang membedakannya dengan orang-orang yang lain. Boleh saja anda memahami wanita atau lelaki yang lain yang namanya juga "Wanda" yang tidak sama seperti yang mendarat di kepala saya. Karena, yang menjadi poinnya disini ialah ketika mendengar kata tersebut, ada sesuatu yang anda pahami disana. Yaitu, seseorang yang bernama Wanda yang anda kenal itu. Nah, di dalam disiplin ilmu mantiq (logika) pemahaman a...

Tarim antara fanatik dan ilmu

  Niat baik bisa saja berakibat fatal apabila berlandaskan fanatisme, bukan ilmu. Menisbatkan suatu perkataan kepada Rasulullah saw dengan tujuan agar orang lain menjadi “baik”, padahal Rasulullah saw tidak pernah mengatakannya merupakan perkara serius. Sebab fal yatabawwa’ maq‘adahu min an-nār , yakni hendaklah ia menyiapkan tempat duduknya di neraka. Sebelum saya berangkat ke Tarim, ada seorang oknum penceramah yang mengatakan bahwa wanita di Tarim seumur hidup hanya tiga kali keluar rumah. Pertama, ketika masih kecil, mereka keluar bersama orang tuanya. Kedua, ketika menikah, mereka keluar dari rumah orang tua menuju rumah suaminya. Ketiga, ketika meninggal dunia, mereka dibawa ke kuburan. Namun, ketika saya berada di Tarim, faktanya justru berbeda. Saya melihat dengan mata kepala sendiri bahwa ada wanita Tarim yang keluar rumah, seperti pergi ke sekolah, berziarah, berbelanja, dan lain-lain. Lantas, di mana fakta yang mengatakan bahwa mereka hanya tiga kali keluar rumah sepanja...