Skip to main content

Dua dimensi dalam ilmu logika



Pernahkah anda melihat seseorang wanita, lalu seorang wanita itu terbayang-bayang di dalam  pikiran anda? Ya. Tentu pernah. Yakni, disaat anda melihat seorang wanita, - apalagi seorang yang anda cintai - tentu gambaran wanita tersebut akan selalu hadir dalam pikiran anda, dimana pun, kapanpun tanpa mengenal ruang dan waktu. Oke.

Ilustrasi sederhana ini akan sedikit memberi kejelasan tentang dua dimensi atau dua ruang yang sering diulang-ulang di dalam kajian ilmu mantik. Ruang yang pertama diistilahkan dengan al-Kharij (alam luar), dan yang kedua adalah az-Zihn (alam nalar). Wanita dengan segala ciri-ciri yang ia miliki yang anda lihat dengan mata kepala anda merupakan wanita yang berada fil kharij (alam luar). 

Sedangkan gambaran wanita yang hadir didalam pikiran anda ialah wanita yang berada fizzihni (alam nalar). Dan sebagai catatan, segala sesuatu yang berada  fil kharij atau fizzihni keduanya masih digolongkan kedalam maujud yakni sesuatu yang ada. Bahkan Imam Ghazali disaat mengklasifikasikan maujudat didalam kitab mi'yar ilmi menambahkan dua maujud yang lain, yaitu maujud fil lafadzi dan maujud fil kitabah.

Untuk lebih mudah, perhatikan ilustrasi berikut ini;  anda disaat melihat "sesuatu" yang berada diluar diri anda, maka "sesuatu" tersebut dinamakan dengan maujud filkharij, kemudian "sesuatu" itu tergambar dalam pikiran anda, "sesuatu" yang tergambar dalam pikiran anda dinamakan dengan "maujud fizhni", kemudian anda mencoba untuk mengungkapkan "sesuatu" yang tergambar dalam pikiran anda dengan sarana lafadz (suara), maka, "sesuatu" yang anda ungkapkan dengan media lafadz dinamakan dengan maujud fil-lafdzi, atau mengungkapkan dengan sarana tulisan, maka "sesuatu" itu dinamakan dengan maujud filkitabah. Sudah, habis. Inilah empat tingkatan maujud yang disebutkan oleh al-Ghazali.

Oke, kita kembali ke pokok pembahasan kita. Yakni, maujud filkharij dan fizzihni yang sangat sering diulang-ulang dalam kajian ilmu logika. Jadi, karena ilmu mantik ialah ilmu yang fungsinya menjaga kesalahan dalam proses berpikir, dan objek berpikir ialah ma'qulat (sesuatu yang ada dalam kepala), maka ruang kajian ilmu logika cuma khusus kepada sesuatu yang ada dalam "zihn". Meskipun ada pembahasan yang keluar dari "zihn" seperti pembahasan lafadz, itupun sebagai pelengkap saja bukan inti pembahasan.

Begitu juga hal-hal yang menjadi persyaratan didalam kajian ilmu mantik klasik, maka, yang dijadikan barometer oleh para manatiqah (logikawan) ialah sesuatu yang berada dalam zihn bukan yang berada filkharij (diluar kepala), sebagai contoh, universal lafadz kully, manatiqah menilai keumuman (universal) lafadz kully dilihat kepada zihn bukan kepada kharij, implikasinya adalah bisa disematkan kata-kata kully kepada matahari, tuhan, dan juga berhimpun dua hal yang berlawanan meskipun individu yang ada di alam realita cuma satu bahkan tidak ada satupun individu seperti contoh yang terakhir.

Begitu juga keluzuman yang disyaratkan oleh para manatiqah pada dalalah iltizam, yaitu mesti keluzuman fizzihn, meskipun di alam realita tidak luzum sama sekali, maka, implikasinya boleh dikatakan luzum antara melihat dan buta, meskipun keduanya tidak luzum filkharij, karena antara melihat dan buta ialah dua hal yang bertentangan yang tidak mungkin berhimpun pada satu zat. Keluzuman keduanya cuma fizihn, karena memang tidak mungkin menghukumi buta kecuali pada sesuatu yang ada potensi melihat, dan tidak mungkin menghukumi melihat kecuali pada sesuatu yang ada potensi buta. Maka, disaat sifat "melihatnya" hilang maka dia dikatakan buta, begitu juga disaat sifat "butanya" hilang maka dia dikatakan melihat. 
Nyan ban.

Hal yang serupa juga bisa kita lihat pada permasalahan tanaqudh (kontradiksi). Inti dari pembahasan tanaqud ialah penegasan terhadap dua hal yang mutanaqidhani (kontradiktif) tidak mungkin berhimpun pada satu zat dan juga tidak mungkin keduanya terangkat dari zat tersebut secara bersamaan, yakni mesti ada diantaranya keduanya yang sebut dan mesti ada  yang terangkat. Hal ini berimplikasi kepada dua hal yang kontradiktif pasti salah satunya benar dan pasti yang lainnya salah, dan ini merupakan keniscayaan yang tidak mungkin ditolak oleh orang-orang yang bernalar sehat.

Nah, yang jadi pertanyaannya sekarang ialah kebenaran dan kesalahan tersebut apakah mesti ada pada kharij atau memada pada zihn sahaja? Jika melihat kepada  objek  kajian dari ilmu logika yang hanya bertumpu pada zihn saja, tentu ruang benar dan salah pada bab tanaqud ini tidak mesti ada pada kharij tetapi boleh juga jika hanya berada dalam alam zihn saja. 

Hal ini berimplikasi  sah dan boleh terjadi tanaqud pada hal - hal yang tidak ada sama sekali pada realita seperti halnya sesuatu yang bersifat fiksi. Contoh : 

                 "Naruto mencintai Hinata"
                            Kontradiksinya 
                "Naruto tidak mencintai Hinata"

Nah, sahkah kontradiksi diatas? Jika berangkat dari penjelasan tadi, maka jelas dua kalimat diatas merupakan dua hal yang kontradiktif meskipun kejadian tersebut tidak ada di alam nyata, tetapi dia masih digolongkan ke dalam maujud, tepatnya maujud fiz-Zihn karena tokoh Naruto dan Hinata tersebut memang ada dan diakui keberadaannya walaupun dasarnya hanya berada dalam imajinasi Masashi Kishimoto.

Kalau kita mau serius, maka disana kita juga akan mendapatkan di bab - bab yang lain dalam ilmu logika yang dijadikan fiz-Zihn sebagai patokan pembahasan bukan fil-Kharij, seperti bab a'kas, tadhayuf, Adam wa malakah dan lain- lain. Selama bab tersebut ada kaitannya dengan dua alam ini, maka, alam zihinlah yang dijadikan barometer oleh para manatiqah (logikawan).

Kesimpulannya ada dua dimensi yang sering diulang-ulang di dalam ilmu mantik, yang pertama dimensi kharij (alam luar), dan yang kedua dimensi zihn (alam nalar). Dan karena ilmu mantik ialah ilmu yang fungsinya menjaga kesalahan dalam proses berpikir, dan objek berpikir ialah ma'qulat (sesuatu yang ada dalam kepala), maka ruang kajian ilmu logika cuma khusus kepada sesuatu yang ada dalam "zihn" saja. 

Wallahu a'lam bis shawab.

Comments

Popular posts from this blog

Memahami konsep dalalah muthabaqah, tadhammun, dan iltizam.

Apa yang anda pahami ketika mendengar kata "Corona"? Ya, tentu yang anda pahami ialah nama bagi satu virus yang mematikan yang berasal dari Wuhan China yang dalam beberapa bulan ini menjadi trending topik hampir di seluruh media sosial dan juga mainstream. Apa yang anda pahami ketika mendengar kata "Wanda"? Ya, anda yang mengenalnya, tentu anda akan bilang bahwa dia seorang wanita yang berasal dari kampung seberang, yang baru tamat sekolah, yang memiliki wajah lumayan cantik, ala kadar lah pokoknya. Dan masih banyak lagi ciri-ciri yang dia miliki yang membedakannya dengan orang-orang yang lain. Boleh saja anda memahami wanita atau lelaki yang lain yang namanya juga "Wanda" yang tidak sama seperti yang mendarat di kepala saya. Karena, yang menjadi poinnya disini ialah ketika mendengar kata tersebut, ada sesuatu yang anda pahami disana. Yaitu, seseorang yang bernama Wanda yang anda kenal itu. Nah, di dalam disiplin ilmu mantiq (logika) pemahaman a...

Mode bertahan

Tidak semua wajah yang cerah adalah tanda hati yang tenang. Kadang di balik senyum yang tampak kuat dan stabil ada luka yang sengaja ditutupi agar tidak terlihat. Manusia modern hidup dengan beban yang berbeda: tekanan sosial, perbandingan yang terus-menerus, tuntutan hasil yang instan dan arus informasi yang tak pernah berhenti. Semua itu membuat seseorang lupa arah, kehilangan fokus, dan bingung dengan apa yang sebenarnya sedang ia jalani. Kita merasa kalah dalam perjalanan, kecewa dengan hasil yang terlambat datang, merasa tertinggal dari orang lain, kehabisan semangat dan kesulitan menjaga konsistensi. Ini sudah menjadi penyakit umum yang menyebar diam-diam tanpa gejala fisik, tapi menghancurkan ketenangan batin. Selama tidak ada kesadaran atau cara mengobatinya, hati tetap akan terpenjara meski tubuh bebas bergerak ke mana saja. Jika ingin menilai keadaan hati kita saat ini, tidak perlu melihat hal yang besar,  cukup perhatikan bagaimana kita bereaksi ketika masalah datang. Ap...

Tarim antara fanatik dan ilmu

  Niat baik bisa saja berakibat fatal apabila berlandaskan kepada fanatik bukan kepada ilmu. Menisbatkan suatu perkataan kepada Rasulullah saw dengan tujuan agar orang lain menjadi "baik" padahal Rasulullah saw tidak pernah berkata demikian, maka fal yatabawwak maqa'dahu min an-nar yakni telah disediakan tempatnya di neraka.  Sebelum saya berangkat ke Tarim, ada oknum penceramah yang mengatakan bahwa kalau wanita di Tarim itu seumur hidup cuma tiga kali saja keluar rumah, yang pertama ketika masih kecil keluar bersama orang tuanya, kedua ketika menikah keluar dari rumah orang tua ke rumah suaminya, ketiga saat mereka meninggal di bawa ke kuburannya.  Tetapi pas saya berada di Tarim, faktanya sungguh berbalik. Saya melihat dengan kepala saya sendiri bahwa ada kok wanita Tarim yang keluar rumah seperti pergi ke sekolah, ziarah, belanja dan lain-lain. Terus yang katanya cuma tiga kali keluar rumah itu dimana? Jawabannya itu hanyalah fiktif belaka bukan sebuah fakta.  Na...